Banner

Petualangan Lima Remaja - Games Android yang Memiliki Latar Belakang Konflik SARA

|


Padapanik.com - Petualangan Lima Remaja - Siap PEKA! adalah sebuah game yang dirilis di platform Android. Game ini menghadirkan nuansa yang sangat Indonesia, memiliki latar suara yang merupakan lagu daerah di perwakilan 5 daerah di Indonesia. Games ini menghadirkan cerita yang diangkat berdasarkan permasalahan SARA yang ada di Indonesia. Latar belakang tersebut mendorong hadirnya game ini dengan menawarkan solusi pendidikan karakter sebagai sumbu utama nya. Pendidikan karakter sendiri termasuk salah satu program pemerintah yang telah berjalan dari tahun 2016 lalu, dengan nama program Cerdas Berkarakter, yang diprakarsai oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia (Kemdikbud).

Game ini menghadirkan genre pendidikan, kebudayaan, dan dengan sedikit bumbu science fiction pada ceritanya. Memiliki lima karakter utama yang masing-masing mewakilkan pulau-pulau di Indonesia, dan hanya satu karakter yang bisa di kontrol yaitu karakter yang berasal dari Jawa barat. 

Sinopsis

Petualangan Lima Remaja menceritakan lima orang anak yang berasal dari latar belakang berbeda-beda yang menjadi satu ikatan persahabatan. Mereka selalu bermain bersama dalam desa tersebut. Namun seketika ada sesuatu yang terjadi yang menyebabkan konflik dan menjadi memanas. Hingga akhirnya  salah satu anak menendang satu mainan yang seketika berubah menjadi sebuah gunung dan kota kecil yang penuh kehidupan.

Selain memiliki gameplay dan cerita utama, game ini juga memiliki empat minigames yang mendukung cerita utama. Adanya minigames tersebut dilatar belakangi oleh lima poin utama dalam pendidikan karakter yaitu: integritas, mandiri, gotong-royong, religius, dan nasionalisme. Dengan ada nya game ini diharapkan dapat menjadi platform pendidikan baru yang lebih inovatif dan interaktif terutama untuk anak-anak. 

Saat ini games yang membahas tentang konflik sensitif SARA dan pendidikan karakter ini sedang dalam tahap perkembangan, dan akan tersedia dalam waktu dekat. Untuk info update games dapat dilihat dengan klik link berikut: Petualangan Lima Remaja - Siap PEKA!

Beberapa screenshot gameplay & konsep karakter












Download di :




Jalan Satu Arah di New York, Kisah yang biasa saja - Ali & Ratu Ratu Queens (2021)

|

padapanik.com - film baru Indonesia lagi yang tayang di Netflix. Untung saja tayang di OTT satu ini, kalau enggak, mungkin saya gak nonton film ini. Soalnya, sampai hari ini masih aja belum kembali ke bioskop. Dari yang tadi nya parno sampai sekarang lebih ke udah males. Mungkin nanti aja deh pas ada film super keren yang gak bisa ditolak, saya akan melepas selimut mager ini dan kembali ke bioskop. 

Ali & Ratu ratu Queens adalah salah satu film yang menarik saat melihat trailer nya. Meskipun premis ceritanya tidak begitu menarik, tapi sepertinya cukup ringan dan seru untuk ditonton dirumah. Ditambah lagi, komposisi Cast nya sangat menarik. Iqbal Ramadhan, Marissa Anita, dan Ibnu Jamil adalah komposisi keluarga yang menarik. Selain itu ada komposisi geng Ratu Queens yang gak kalah gokil. Tika Pangabean, Asri Welas, Nirina Zubir dan Happy Salma. Baru liat trailer nya saja, saya sudah bisa membayangkan keseruan geng satu ini. 

Ali (Iqbal Ramadhan) sejak kecil ditinggal oleh Ibu nya (Marissa Anita) ke Amerika untuk mengejar cita-cita nya yang tertunda sebagai seorang penyanyi. Sayangnya, sang ayah (Ibnu Jamil) tidak pernah setuju dengan rencana itu, dan lebih memilih membesarkan Ali sendirian. Hingga akhirnya, Ayah Ali meninggal. Ali dewasa akhirnya memutuskan untuk pergi ke New York sendirian, mencari ibu nya. Ali beruntung, di perjalanan nya yang buta arah itu, ia bertemu Party (Nirina Zubir) dan geng nya. Ali yang harusnya bisa saja menjadi gembel di Amerika malah tinggal bersama geng Queens yang seru sembari tetap berjuang mencari ibunya. 

Film ini banyak menggunakan pengambilan gambar yang unik, seperti handheld jadi kesannya raw gitu. Sayangnya konsep tersebut pada akhirnya tidak mendukung berbagai suasana dalam filmnya. Dalam beberapa scene yang seharusnya emosional malah terkesan hambar. Divisi Music Scoring juga harusnya bertanggungjawab penuh akan hal ini. Sayang sekali kesan emosional nya tidak tersampaikan dengan baik. 

Beberapa dialog pun cukup aneh, mungkin bukan cuma dialog, tapi penyampaiannya. Saat Mia (Marissa Anita) menangis dan berbicara kepada anaknya Ali. Rasanya aneh. Iya itu yang saya rasakan saat mencoba menonton scene ini dan saya ulang 2x. Lebih aneh lagi kalau tau penulisnya script nya adalah Gina S. Noer yang juga menulis untuk "Dua Garis Biru" (2019) dan "Keluarga Cemara" (2019). 

Sama rasanya seperti menonton film "The Guys" (2017), Pertemanan atau Kebersamaan yang coba di highlight di akhir masih kurang kena. Masalahnya sama, yaitu kurang banyak scene yang menjelaskan tentang kedekatan Ali dan Geng Queens nya. Karakter yang diciptakan juga sebenarnya biasa saja kecuali karakter yang diperankan Happy Salma dan Nirina Zubir. Dalam dialog kelima nya juga sangat minim komedi yang membuat kedekatannya lagi-lagi biasa saja. Scene favorit saya adalah ketika Ali dan tante Ance (Tika Panggabean) curhat sambil maskeran. Mungkin ini scene yang paling menggambarkan kedekatan Ali dengan geng queens. 

Yang paling berhasil dari building character dari film ini hanya Mia, Mama dari Ali. Ketika menonton saya merasakan gundahnya hati seorang ibu yang merasa bersalah namun tidak bisa berbuat apa-apa. Scene saat ia di foto oleh Ali, ekspresi nya sangat bagus. Canggung tapi tetap dengan tatapan kasih sayang mencoba mengikuti apa yang anaknya inginkan, keren banget. Oh iya, saya lupa menghighlight Eva (Aurora Ribero), scene lain yang menurut saya pesannya nyampe adalah ketika Ali datang menemui Eva diakhir film. Penonton diingatkan kalau Ali tidak tau harus kemana lagi kecuali Eva, baru deh kita bisa merasakan rasanya menjadi Ali. Jauh lebih tepat daripada scene beradu mulut dengan ibunya.


Penulis :

Ashari @arhieashari

TONIGHT SHOW PREMIERE melawan aturan klise televisi

|

padapanik.com -  Pandemi tidak hanya berdampak pada industri hiburan off air. Bahkan on air pun, kena dampak nya. Bukan soal bisnis mereka yang anyep, tapi soal aturan-aturan yang membingungkan setiap program nya. Diawal pandemi mereka harus menjaga jarak sehingga jumlah tamu yang on frame dibatasi dan tidak boleh dihadiri oleh penonton. Kemudian diharuskan menggunakan face shield di beberapa minggu kemudian. Simpang siur nya aturan-aturan yang mengikat untuk televisi terus bermunculan, hingga akhirnya terlihat semuanya begitu pasrah saja. Tonight Show salah satu program NET TV terlama yang masih tersisa, kini tidak punya jadwal tayang rutin atau jadwal tayang yang pasti. Aturan baru yang mengharuskan host menggunakan masker bukan faceshield jelas sekali membuat semuanya tidak nyaman, apalagi mereka yang mengandalkan ekspresi. 

Aturan-aturan KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) memang secara langsung sangat merepotkan pihak televisi. Atau lebih tepatnya, televisi memutar otak untuk tetap di zona aman bebas teguran dari KPI. Aturan-aturan yang mengikat dan "guru pengawas" yang galak ini membuat konten digital tumbuh subur. Alternatif hiburan yang lebih bebas, di habitat yang baru, dan masih seru karena belum ada pengawasnya. Televisi akhirnya semakin ditinggalkan, kata Vincent Rompies "Program TV saat ini udah seperti hidup enggan, mati tak mau". Aturan rancu soal pandemi ini juga anehnya tidak berlaku pada sinetron dan film. Jelas sekali alasannya, bahwa keduanya mengandalkan ekspresi. Tapi pada proses syutingnya sama saja kan dengan program tv lain? Pastinya ada kecemburuan. 

"The Future TV is not the TV" kata Wishnutama. Daripada pusing dengan segala aturan-aturan klise (ditambah lagi harus mikirin perhitungan rating ala Nielsen) NET TV akhirnya bikin gebrakan baru lagi dengan hadirnya "Tonight Show Premiere". 

Tadinya saya pikir, "Tonight Show Premiere" sama seperti "Tonight Show Primetime" yang tayang di jam-jam lebih awal, eh tapi ternyata enggak sama sekali. "Tonight Show Premiere" ini adalah program Tonight Show versi digital, yang tentunya hanya tayang di YouTube. Ini dia inti dari permasalahan nya. Dengan ditayangkan di youtube, Vincent Desta dkk tidak lagi bergantung pada Nielsen dan pastinya tidak perlu mengikuti aturan-aturan televisi. Kacau dan bikin kaget banget tadinya. Baru beberapa menit saja, mulut kedua host sudah tidak bisa di kontrol lagi, terus-menerus mengeluarkan blue jokes yang pastinya sangat tidak ramah di TV. Tapi karena ini youtube, belum ada aturan yang mengikat. Selain itu, tidak adanya jeda iklan dan persyaratan menggunakan masker atau pun faceshield (khususnya untuk talent yang inframe) saat sedang dilakukannya proses syuting. Sehingga selain dibebasin nya jokes yang keluar, ekspresi para talent juga tidak terhalang apapun.

Dengan adanya program ini sepertinya membuat KPI garuk-garuk kepala, pasalnya jelas sekali ini sangat melanggar norma-norma penyiaran yang sudah dibangun KPI bertahun-tahun, tapi dengan di upload nya di digital, maka tidak bisa disentuh sama sekali apalagi diberi teguran. Format "Tonight Show Premiere" hingga saat ini dibuat dengan skala produksi yang lebih kecil. Durasi kurang lebih 30 menit, hanya ada 2 host (atau 4 host tanpa bintang tamu), homeband yang lebih minimalis, dan tamu-tamu yang sejauh ini semuanya terbaik dan mendatangkan trafik tinggi khususnya di dunia digital. Jadi, belum ada tamu selebriti-selebriti yang tidak kita kenal atau tamu yang membuat host nya kelihatan tidak nyaman. Formula ini terbukti berhasil. Setiap episode dari "Tonight Show Premiere" menjadi trending dan rata-rata diatas 1 juta views. "Ini kan yang kalian mau penonton?" 

Keberhasilan formula yang dilakukan NET TV ini membuat salah satu program unggulan mereka "Malam-Malam" yang sempat bungkus kini kembali dalam format digital. Bedanya dilakukan dengan live streaming. Hasilnya, hampir sama jika dilihat dari segi jumlah penonton. Jika ini berjalan panjang dan konsisten, maka bisa saja semua televisi melakukan digitalisasi untuk menghadirkan produk hiburan yang lebih simpel dan minimalis (sehingga budget produksi bisa turun) dengan impact yang lebih besar karena menyasar penonton milenial yang mungkin sudah tidak lagi menonton televisi. 

Penulis : 

Ashari (@arhieashari)

GENK KOSAN IMPERFECT YANG RUSUH. REVIEW IMPERFECT THE SERIES (2021)

|

padapanik.com - Keberhasilan film dan buku "Imperfect" karya Meira Anastasia dan Ernest Prakasa menjadi salah satu contoh penulisan drama komedi yang sangat tepat dan cocok untuk pasar Indonesia. Bahkan, Imperfect (2019) bisa dikatakan menjadi film Ernest Prakasa yang paling bisa bersaing dengan karya film terbaiknya, Cek Toko Sebelah (2016). Ernest prakasa meyakini film komedi dengan drama yang menyentuh menjadi formula yang paling tepat untuk Indonesia. hal ini cukup tepat karena untuk era ini, sepertinya masih sangat sulit untuk mengadaptasi film CGI ala hollywood. Jika ingin bersaing khususnya di Asia. Film drama komedi lah yang paling memungkinkan. Hal ini bisa dilihat dari karya-karya film Thailand beberapa tahun terakhir yang sangat kuat dengan genre Drama-Komedi nya. Indonesia lewat film-film Ernest Prakasa sepertinya sangat cocok. Asal, kurang-kurangin jokes internal. Biar bisa Go International.

Begitupula dengan series, setelah "Cek Toko Sebelah series" yang ditayangkan di Hooq, platform yang sudah almarhum itu loh. Sayangnya, sepertinya series di Indonesia baru-baru mulai diminati saat awal pandemi, menonton series menjadi hobi umum apalagi dengan adanya Netflix dan Disney+. Jika Indonesia membuat series, Drama-Komedi adalah genre yang tepat yang bisa dikembangkan saat ini di negara kita. Imperfect The Series membuka hype series di Indonesia. Sebelumnya, salah satu original series We TV yaitu "My Lecture My Husband" sudah memulai hype nya sendiri.  

Sayangya, WeTV sendiri masih cukup asing di kalangan penonton Indonesia, sebagai sebuah platform nonton atau OTT, WeTV tidak sebegitu populer Netflix atau Disney+. Meskipun begitu, banyak yang belum tahu kalau menonton series di WeTV sebenarnya bisa diakses gratis, bedanya kita hanya harus menunggu sedikit lebih lama untuk menonton episode terbaru karena aplikasi nya mendahulukan user VIP yang berbayar tentunya. Jika ingin membayar pun, sangat murah. Sekitar Rp.20.000,- perbulan. Kalian juga bisa menyaksikan Imperfect The Series di iflix. 


Sebelum kita masuk ke ulasan nya, Padapanik mau mengajak kalian untuk ikut terlibat mengulas film "Imperfect" (film yah, bukan series nya) di website terbaru padapanik yaitu ulas.id caranya gampang, tinggal daftar, bikin username kamu, lalu pilih film yang ingin kamu ulas (pastikan mengulas film yang sudah kamu tonton yah). Tentuin ratingnya versi kamu, lalu tulis ulasan singkat tentang film nya. Terimakasih sudah #bantufilmindonesia

Imperfect Series mengambil timeline sebelum pertemuan antara Rara dan Dika. Saat itu, Dika (Reza Rahadian) sedang bekerja di Surabaya sedangkan ceritanya berfokus pada geng kosan diantaranya Neti, Prita, Endah, dan Maria sebagai anak terakhir yang masuk ke dalam keluarga kosan nya Bu Ratih. Setiap anak kosan memiliki warna nya masing-masing. Neti seorang make up artist yang bucin, Prita seorang agen pulsa yang doyan main game, Endah seorang mahasiswi yang doyan K-pop dan Maria, cewek papua yang sedang fokus mencari kerja. 
Keempat karakter utama tersebut memiliki konflik nya masing-masing namun dalam 12 episode ini, cerita lebih banyak berfokus pada kisah cinta Neti (Kiky Saputri) yang menjadi 'bucin' setelah berpacaran dengan Doni atau Don don (Bintang Emon) seorang artis figuran. Sedangkan Neti berprofesi sebagai make-up artis. 

Produser, Sutradara, Tim Penulis dan Konsultan Komedi

Secara mengejutkan, Ernest Prakasa mencoba nama-nama baru dalam proyek nya kali ini. Biasanya, Ernest lebih banyak memberikan kesempatan untuk talent-talent dibawah manajemen nya seperti di series Cek Toko Sebelah yang di kerjakan oleh 3 sutradara diantaranya Bene Dion, Arie Kriting dan Soleh Solihun (Ketiganya dibawah manajemen milik Ernest). Untuk proyek kali ini, Hanya Ardit Erwandha sebagai konsultan komedi yang di ajak oleh Ernest. Di posisi sutradara, Naya Anindhita dipilih. Mungkin karena Imperfect lebih banyak bercerita tentang perempuan, maka Ernest memilih sutradara perempuan agar ada sentuhan khusus. Naya sendiri sudah pernah mengerjakan film "Sundul Gan : The Story Of Kaskus" (2016) dan Eggnoid (2019). Sedangkan penulis, duo stand up comedian Erwin Wu dan Sigit Exit menjadi tandem yang sangat baik. 

Sekali lagi jika di bandingkan dengan "Cek Toko Sebelah The Series" rasanya sangat jauh kualitasnya. Imperfect The Series begitu padat dengan komedi, meskipun ceritanya sederhana, tapi sangat berhubungan satu sama lain. Selain itu, proses menyambungkan cerita nya dengan timeline asli di film Imperfect terasa sangat mulus. 

Jika kalian mengharapkan porsi drama yang lebih besar, series ini cukup imbang antara porsi komedi nya yang padet dengan drama nya yang menyentuh. Formula ini jelas adalah formula andalan film-film Ernest. Setiap karakter nya memiliki potensi komedi nya masing-masing, khususnya karakter Bu Ratih yang harus diacungi jempol karena mau ngapain aja disuruh-suruh sutradara melakukan hal-hal yang mungkin gak pernah dia lakukan, bahkan mungkin beliau gak ngerti. Minusnya di potensi komedi karakter yang diperankan oleh Ari Irham seringkali miss, bukan kesalahan aktornya. Tapi entah direct nya, penulisan komedi nya atau editor nya yang kurang tepat. Sehingga humor ala Jepang atau Thailand tersebut tidak masuk. Atau emang karena gak lucu dan ngebosenin aja momen nya. 

Karena karakternya di develop dengan baik, rasanya banyak formula komedi yang diulang berkali-kali namun tetap lucu. Misalnya formula komedi Maria yang selalu salah menempatkan penggunaan kata pada kalimat yang diucapkan, hal ini pernah dilakukan di scene terlucu film Imperfect dulu saat membahas kosakata sunda "meuren". Neti yang komedi nya vulgar dan ceplas ceplos serta pronounciation bahasa Inggris nya yang selalu salah. Endah dengan kepolosan nya sebagai gadis garut yang kuliah di Jakarta dan Prita yang ngomong apa aja lucu. Diluar itu, akting keempat pemain nya sangat luar biasa. Beberapa mimik wajah yang ditampilkan membuat detail nya menjadi komedi. Menarik sekali. Ditambah lagi, kalau kalian familiar sama komedi-komedi dari Ardit Erwandha, kalian akan lebih mudah tertawa saat menonton serial ini. 

Kesuksesan Imperfect Series membawa mereka menjadi series paling laris di WeTV. Hal ini pula yang membuat tim Ernest langsung men-develop naskah untuk season 2 nya. Selain itu, Ernest Prakasa juga baru saja selesai membuat series terbaru dari salah satu film nya "Susah Sinyal". 


Penulis : 

Ashari @arhieashari