Banner

ADVERTISE

AYAT-AYAT ADINDA : MELANTUNKAN AYAT SUCI, MENGEJAR PENGAKUAN

|

padapanik.com - Tahun 2015 harusnya menjadi momen yang baik untuk perkembangan film Indonesia. Selain sudah mulai berkurangnya film-film bergenre horor dewasa, Bioskop hari ini tidak kalah dipenuhi dengan film-film Indonesia yang semakin beragam. Dan semoga hal ini menjadi awal yang baik untuk perkembangan film lokal khususnya dalam persaingannya di layar lebar. Hari ini, minat anak muda di Indonesia untuk menonton Film lokal cukup memprihatinkan. Jika pembaca ingat, kapan terakhir nonton film Indonesia di bioskop?

Saat melihat judul Ayat-ayat adinda, pikiran penulis malah suudzon dengan kesuksesan film Ayat-ayat cinta. Apakah film ini mencoba mengikuti film yang sukses di tahun 2008 tersebut dengan memanfaatkan judul yang hampir sama?, Terkadang hal-hal kecil seperti judul pun membuat penonton mulai menerka-nerka cerita apa di balik judul dan poster yang tertampang di bioskop tersebut. Meskipun film ini ternyata jauh berbeda dengan film ayat-ayat cinta. Hal ini serupa dengan film berjudul "Haji backpacker" yang menurut penulis salah mengambil judul, Sehingga mengurungkan niat orang-orang untuk memilih tidak menonton. Padahal filmnya dibuat dengan sangat baik dan sangat layak untuk di tonton. Harusnya pemilihan judul pun menjadi perhatian dari para filmmaker di Indonesia.

Ayat-ayat Adinda bermula ketika seorang anak bernama Adinda Zahra (Tissa Biani) yang dianuegrahi suara merdu akhirnya harus menutup cita-cita nya untuk bernyanyi di grup Qasidah sekolah karena ayahnya Faisal (Surya Saputra) meminta sang anak untuk fokus sekolah. Keluarga Adinda sendiri selalu berpindah-pindah tempat tinggal karena 'sedikit berbeda' dengan penganut Islam mayoritas sehingga dianggap sesat. Adinda sendiri tidak pernah mengerti akan hal tersebut.

Semakin terdesaknya keluarga Adinda di lingkungannya sendiri membuat Faisal lebih berhati-hati, Sedangkan Adinda, atas saran sahabatnya Fajrul (Badra Andhipani), dan Emi (Alya Shakila) akhirnya memilih untuk mengikuti MTQ (Musabaqah Tilawatil Qur'an) agar ia dan keluarganya mendapat pengakuan dan dihargai oleh masyarakat sekitar. Masalah kembali hadir, ternyata Adinda tidak memahami 7 macam lagu dalam seni membaca Al-qur'an, yang ia tau hanyalah mengaji dengan baik dan benar. Hal ini juga dikarenakan karena ajaran orang tua nya yang berbeda.

Film ini mengambil setting di Ngandel, Yogyakarta. Mengambil latar kehidupan masyarakat menengah kebawah, sangat menyenangkan di tonton bersama keluarga. Tidak banyak aktor atau aktris terkenal dalam film ini, penulis pun baru pertama kali melihat akting seorang Badra Andhipani yang berperan sebagai Fajrul yang penuh semangat, setia kawan dan positif langsung menarik perhatian. Karakter dan akting nya sangat patut di acungi jempol. Sedangkan Surya Saputra dan Cynthia Lamusu (berperan sebagai Ibu Adinda) memang sudah tidak bisa dipungkiri aktingnya. Film keluarga ini sebenarnya cocok di tonton anak kecil sekalipun jika masih dalam bimbingan Orang tua, Film ini dapat menanamkan rasa kebanggaan terhadap anak yang pandai mengaji. Film ini juga berpesan kalau seorang anak pandai mengaji akan terlihat keren dan di senangi orang lain.

Overall film ini cukup mengharukan, dan pesan nya dapat tersampaikan. Meskipun beberapa adegan tidak dapat dijelaskan dengan baik. Para penonton akan dibuat tercengang dan terharu mendengar tokoh Adinda melantunkan ayat-ayat suci, juga akan ikut terhibur dengan kesetiakawanan Fajrul. Film ini bisa di kategorikan berbeda jika dilihat dari dua sisi yang berbeda. Ringan jika dilihat dari perjuangan Adinda, Persahabatan, dan tema religi, Namun juga film ini menyampaikan pesan tentang cita-cita terhadap Indonesia yang bebas diskriminasi dan kebebasan beragama dengan cara nya masing-masing.

Jika berniat untuk menonton film Indonesia di bulan ini, Film ini cukup menarik dan layak untuk di rekomendasikan. Sayangnya, menurut Penulis sendiri, promosi dari film Ayat-ayat Adinda ini kurang, sehingga banyak yang tidak tahu bahkan asing jika mendengar judulnya. Meskipun menurut Denny J.A. (Produser Eksekutif) "Film tidak hanya sebagai lahan bisnis" tapi promosi yang kurang seimbang dengan pembuatan film ini yang serius menjadi kurang mendapat respon yang baik dari masyarakat. Jadi sayang sekali.

Dan setelah review film Indonesia kedua kami (sebelumnya filosofi kopi), semoga padapanik.com bisa lebih rutin untuk mereview film-film Indonesia setidaknya setiap bulan. Doakan saja!



Oleh : Ari

1 comment:

  1. pengen banget nonton film iniii, thanks reviewnya ^_^

    Salam dari Rinai Hujan, maaf baru berkunjung, hehe...

    ReplyDelete