Banner

ADVERTISE

RUDY HABIBIE : ENDING TERTEBAK YANG DIKEMAS SANGAT BAIK

|

padapanik.com - Film Habibie & Ainun yang telah dirilis di tahun 2012 lalu masih menjadi salah satu film Indonesia yang sukses dan berhasil mencetak angka penonton yang fantastis. 4 Juta penonton membuat film arahan Faozan Rizal ini menjadi 10 besar film dengan penonton terbanyak di Indonesia. Kisah romantis dan inspiratif dari seorang tokoh bangsa sepertinya berhasil di ramu dalam sebuah film berdurasi 180 menit yang juga berhasil memperkenalkan sosok mantan presiden Indonesia ke-3 tersebut ke kalangan yang lebih luas dan tentunya meningkatkan rasa hormat masyarakat Indonesia terhadap pribadi dan perjuangan nya untuk Indonesia. Jika film ini ada sekuel nya, sebagai penonton saya sendiri tidak bisa menebak cerita yang akan diangkat.

Tongkat estafet sekuel Habibie & Ainun selanjutnya diserahkan kepada Hanung Bramantyo untuk menvisualisasikan naskah berjudul "Rudy Habibie" yang di bebani penuh oleh ekspetasi tinggi dan sinis nya para penonton setia film selanjutnya.

Film Rudy Habibie mengangkat kisah Bacharuddin Jusuf Habibie muda (Reza Rahardian) yang mengenyam pendidikan di RWTH, Aachen, Jerman. Cerita yang diangkat adalah masa saat belum bertemu sosok Ainun yang pastinya tidak ada dalam film kali ini. Rudy bertemu dengan beberapa mahasiswa Indonesia yang juga sedang menyelesaikan studi nya antara lain Liem Keng Kie (Ernest Prakasa), Poltak Hasibuan (Boris bokir), Ayu (Indah Permatasari) dan Peter (Pandji Pragiwaksono) dan berjuang bersama-sama di bawah nama Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) untuk mewujukan mimpi-mimpi Rudy yang dianggap kurang rasional dan masuk akal. Dalam perjalanan nya, Rudy bertemu dengan seorang wanita Polandia yang menjadi satu-satunya figur yang selalu percaya pada cita-cita besar nya. Illona Ianovska (Chelsea Islan) yang seketika menjadi kekasih Rudy dalam waktu singkat. Perjalanan seorang Rudy di Jerman tidak begitu mulus karena banyaknya pertentangan dari pihak Panca dkk yaitu seorang mantan tentara pelajar. Bagaimana film ini menginspirasi?

Film ini dimulai dengan setting masa kecil habibie, saya lupa mereka mencantumkan tahunnya atau tidak. Mungkin sekitar tahun 40-an di mana agresi militer masih sangat gencar-gencarnya di Indonesia. Apalagi sampai jauh-jauh menyerang hingga kota kecil yang terletak 150km dari kota Makassar itu. Sayang sekali visualisasi kota Pare-pare tidak berhasil di wujudkan. Terlihat hampir sama seperti di jawa, tentunya di perburuk dengan tetap menggunakan bahasa Indonesia bahkan tanpa logat bugis sama sekali, sehingga suasana kota tersebut tidak tergambarkan sama sekali. Hanya sekali menggunakan logat gorontalo hanya untuk menandakan perpindahan kota dari Parepare ke kota Gorontalo.

Alur cerita terus bergantian dari tahun 50-60an saat di Jerman dan masa kecil Habibie yang berusaha di hubungkan hingga berhasilkan menyalurkan perasaan perjuangan beliau pada waktu itu. Akting Reza rahardian kembali berhasil memukau sejak detik pertama kemunculan nya. Saya sendiri benci menulis hal yang sama ketika menulis review film yang diperankan oleh aktor senior tersebut. Untungnya film ini tidak melulu soal Reza rahardian, Film ini diperkuat Chelsea Islan yang mungkin menjadi salah satu penampilan terbaik di film yang ia bintangi (yang saya tonton). Memerankan karakter perempuan keturunan polandia yang fasih berbahasa Indonesia, tentu saja dengan aksen bule atau terkesan seperti noni belanda di jaman penjajahan. Terdengar sangat natural dan tidak dibuat-buat. Tentu saja wajah nya di perkuat dengan divisi wardrobe dan make up yang mumpuni, jadilah tokoh Illona yang cantik dan menarik perhatian. 

Film ini diperkuat lagi dengan para pemeran pendukung nya yang juga bermain maksimal. Boris bokir, Ernest Prakasa, dan Pandji pragiwaksono yang notabene nya adalah Stand up comedian yang menggelitik, kini menyelesaikan tantangan Hanung untuk bermain serius dan hasilnya, cool! Jangan lupakan karakter Ayu sang puteri keraton yang diperankan oleh Indah Permatasari. Menurut penuturan mereka disalah satu talkshow di televisi, karakter Ayu adalah karakter fiksi yang digabungkan dari berbagai karakter lain di kehidupan nyata, pastinya sangat sulit. 

Sayangnya film Rudy Habibie jelas sudah ketahuan ending nya, kisah cinta Habibie dan Ainun yang sudah di tonton jutaan orang kini mengangkat sosok wanita lain di masa lalu. Namun film ini sangat worth it untuk di tonton karena sinematografi nya yang memanjakan mata. Akhir-akhir ini, kualitas sinematografi film Indonesia memang semakin baik, apalagi diperkuat dengan visual effect yang semakin halus. Jangan lupakan kalau film ini adalah kisah hidup dari tokoh Nasional kita yang mendunia, yang pastinya penuh dengan adegan-adegan yang membakar semangat muda, optimisme anak muda, Perfectionist, Nasionalisme dll semuanya di buat dengan hati-hati tanpa membuat sosok Habibie terlihat terlalu sempurna karena diimbangi dengan kekurangan karakter yang di tampilkan. Minusnya, beberapa adegan dramatisasi membuat saya geleng-geleng kepala karena tau ini adalah biografi seseorang, sehingga saya sendiri tidak begitu percaya kalau hidup seorang Habibie se dramatis itu ketika melihat adegan nya. Saat penonton gak percaya, tentunya pesan dan emosi tidak akan sampai. Ya Sudah lah, film ini saya jamin masih sangat menghibur, bahkan saya pribadi lebih suka film ini di banding film pertama. Selamat menonton, selamat berlibur. 


                         

Penulis :
Ashari @arhieashari  Se-optimis Habibie dengan keberuntungan seburuk Donald Duck.

No comments:

Post a Comment