Banner

ADVERTISE

MUSIK THE SIGIT UNTUK SEMUA KALANGAN

|

padapanik.com - Mungkin THE SIGIT adalah band terbaik kota kembang saat ini. Namanya hampir selalu ada di line up gigs besar hingga pensi di Bandung. Solid nya para Insurgent Army (sebutan Fans The SIGIT) yang selalu memadati tiap gigs dan album "Detourn" yang menjadi album terbaik 2013 versi Rolling stone Indonesia. Tour Australia nya beberapa bulan kemarin juga terbilang sukses untuk menarik lebih banyak massa. Band yang di perkuat empat personil antara lain Rekti (Vokal, Gitar), Farri (Gitar), Adit (Bass) dan Acil (Drum) ini tidak pernah puas dengan pencapaian nya. Setelah pulang ke Bandung, Konser bertajuk Mythical Men Ensemble telah menjadi janji untuk penggemarnya di tanah air.

Bereksplorasi...

Adalah cara bertahan yang cukup memutar otak. The SIGIT tidak berhenti dengan musik rock 70an nya dan para fans yang moshing. Sebuah suasana yang berbeda di tampilkan di konser yang berlangsung di Dago Tea House, Bandung tersebut. Tidak hanya berempat, panggung megah juga diisi oleh Choir dan Grup Orkestra "Falzette Music" yang di pandu oleh music composer & arranger, Idhay Adhya.

Bagaimana jadinya musik rock bertemu orkestra klasik?


Sekitar pukul 17.00 suasana Dago Tea House Bandung mulai di ramai oleh pengunjung yang ingin menukarkan tiket. Padahal pintu teater baru di buka pukul 20.00. Sejak jauh-jauh hari, tiket diumumkan sold out. Bahkan tiket dengan tingkatan VIP dan setelahnya lebih cepat habis dari tiket reguler. Jelas tidak ada tiket on the spot. Semalam sebelumnya saya juga menelusuri media sosial berharap bertemu netizen yang menjual tiket nya. Sayangnya tidak ada sama sekali.

Sejam sebelum pintu gedung di buka, booth merchandise di serbu pengunjung. Padahal persiapan booth ini terlihat sangat tidak matang. Display kaos yang hanya di tempel menggunakan lakban di pagar, Produk yang tidak tersusun rapi sehingga penjaga kebingungan dengan ketersediaan stock dan bahkan tidak disediakan nya kresek untuk pembeli. "Gak plastik, kita rock n roll disini mah, langsung pake aja" begitu kira-kira.

Setelah pintu di buka, saya melihat pemandangan yang berbeda. Jika penonton The SIGIT biasanya di penuhi dengan anak muda berambut gondrong ala Idolanya, kali ini para pengunjung yang datang jauh lebih rapi, bahkan ada yang menggunakan jas. Hal yang menarik lainnya adalah banyak nya pengunjung berkeluarga dengan style an ala kondangan yang hadir. Mungkin mereka keluarga para personil, tapi hanya sedikit yang duduk di bangku keluarga. Sisanya duduk berbaur dengan penonton lainnya. Sebuah momen langka bagi saya. Sepanjang konser, saya terus melihat ke arah mereka dan cara mereka menikmati konser menjadi perhatian khusus saya.


Suasana gelap, dan para penonton yang duduk di kursi nya masing-masing. Jangan lupa bau dupa yang sengaja di letakan di sudut ruangan. Mungkin untuk kesan mistis konser ini, dan The SIGIT beserta para personil Orkestra pun menaiki panggung. Seketika panggung di penuhi warna ungu. Salah satu keunikan band ini karena band rock biasanya identik dengan warna hitam dan warna ungu cukup feminim. The SIGIT sejak album Detourn berhasil membuat branding yang baik dengan warna ungu yang malah terkesan magic dan misterius. Ah lagi-lagi saya mengamati hal-hal yang tidak penting.

The SIGIT dengan iringan orkestra sebenarnya bukan lah yang pertama kali. Sebelumnya kami sempat menyaksikan penampilan mereka dengan nuansa yang sama di F2WL (Pensi SMAN 2 Bandung). Kali ini Orkestra yang lebih besar, penambahan choir, penonton yang segmen nya random dan pemilihan tempat yang tidak pas untuk headbang ini membuat saya berpikir The SIGIT akan menjinakan lagu-lagu rock nya menjadi lebih pelan dan manis.

Sayang nya saya salah..

"Detourn" lalu di lanjutkan dengan "Gate of 15th" adalah hal yang mengagetkan untuk saya. The SIGIT membuka show nya dengan konsistensi musik nya dengan penambahan instrument saja. Genre rock dalam diri mereka sepertinya tidak akan hilang meskipun di tonton sambil duduk. Mau teriak susah, Headbang gak bisa, berdiri takut ngalangin, serba salah. Persiapan konser kali ini bisa dibilang sangat baik, letak perbedaan nya jelas pada sound system yang garang tapi lebih enak di dengar di telinga. Semuanya terdengar halus tanpa bising symbal dan bass yang dominan, semuanya bisa dinikmati berbagai kalangan. Halus sekali.


Beberapa lagu lainnya terdengar sangat syahdu karena tempo yang lebih pelan "Live in new york" dan "AM Feeling" juga beberapa tembang yang sangat langka dibawakan seperti "Nowhere end" dan "Owl and Wolf" meyakinkan perasaan penonton bahwa datang ke konser dengan tiket yang jauh lebih mahal dari biasanya, di tambah lagi terbatas nya tiket adalah sebuah hal yang tidak sia-sia. Beruntunglah bagi yang mendapatkan tiket malam itu. The SIGIT dkk benar-benar memutar otak untuk menemukan formula yang berbeda dari penampilan nya kali ini.

Sayangnya penampilan-penampilan memukau tersebut harus di akhiri dengan "Cognition" dan The SIGIT berpamitan terlalu cepat. Para penonton yang merasa ini belum berakhir masih stay di bangku penonton.

"We want more!" 

10 menit kemudian, Rekti dkk kembali keatas panggung tanpa orkestra untuk sebuah encore. Bukan hanya 1, tapi 3 lagu sekaligus. "Black Summer", "Clove Doper", dan "Black Amplifier". Penonton tetap saja merindukan penampilan the SIGIT dengan format dasar ini hingga akhirnya terpuaskan dan pulang dengan hati senang. Para personil juga memuaskan dirinya dengan aksi panggung selepas-lepas nya. The SIGIT masih menjadi band terbaik di Bandung, saya mengamini itu.

Penulis : 
Ashari @arhieashari, menikmati konser dengan demam, batuk dan sedikit aroma terapi. 
Foto :
Refantho Ramadhan, dokumentasi official dari panitia

No comments:

Post a Comment