Banner

ADVERTISE

ALBUM REVIEW : PARAHYENA - ROPEA

|

padapanik.com - Review rilisan fisik masih menjadi rubrik yang paling ditunggu di padapanik.com! Terimakasih yang selalu setia membaca review nya. Semoga setelah membaca review, ada keinginan untuk membeli rilisan fisiknya. Mohon maaf bila review rilisan fisiknya selalu terlambat, karena butuh waktu menikmati materi nya berminggu-minggu sebelum akhirnya di olah menjadi sebuah tulisan review yang (kami usahakan) kompleks. 

Rilisan fisik kali ini akan membahas tentang album perdana dari Parahyena, satu lagi sentuhan folk dengan warna traditional asal bandung yang siap di dengarkan lebih luas lagi dengan album bertajuk "Ropea" yang dalam bahasa sunda berarti "mengubah" atau "memperbaharui". Diambil juga dari penggalan kata "Rope" dalam bahasa inggris yang artinya "mengikat" sebagai sebuah pertanda kelahiran album perdana menjadi ikatan yang kuat antar personilnya agar terus bersama-sama dalam format band.

Album ini cukup menarik untuk di koleksi. Packaging nya cukup menarik dengan di bungkus sebuah wadah berbahan dasar kanvas dan bonus stiker. Wadah album nya sendiri berbahan karton tebal yang di percantik dengan artwork yang menggambar seorang wanita yang di kelilingi oleh kupu-kupu dan hyena. Album ini seperti biasa di lengkapi dengan beberapa halaman yang terdiri dari halaman thanks to, lirik dan credit yang warna warni di lengkapi dengan foto-foto para personil. 

Album ini berisi 9 lagu. Dengan 3 single yang sudah di rilis lebih dulu. Penari (2014), Ayakan (2015) dan Di bawah rembulan (2016). Hanya ada 5 lagu yang ditulis langsung oleh Sendy dan Parahyena. Sisanya adalah sumbangan lagu dari teman-teman musisi seperti Efiq Zulfikar & Deden Sutris (Cibaduyut), Ade Suntara (Sindoro Sumbing), Dimas Wijaksana (Penantian di perempatan tiongkok) dan Olan (Lebih senang). Wajar kalau di album ini terdapat banyak nuansa yang berbeda. 

Padapanik.com sendiri bertemu Parahyena pertama kali di festival Summer and Rain di tahun 2015. Dengan guitalele dan contra bass mengingatkan kami dengan format Payung teduh. Sayangnya karena terlalu banyak nya band yang tampil pada festival itu dengan dominasi folk. Satu-satunya lagu yang berbekas adalah "Cibaduyut" yang unik, nyeleneh, simple dan mengandung pesan pariwisata di kota Bandung haha.. 

Hingga akhirnya kami sangat sering bertemu Parahyena di berbagai gigs dan menyimpulkan kekuatan dan keunikan Parahyena ada pada nuansa suling sunda, suara biola yang sangat sopran dan suara khas sang vokalis yang terdengar sangat natural dan effortless bahkan tidak begitu "hampura kang" merdu namun sangat sesuai dengan musiknya. Identitas musiknya melekat dengan khas suara sang vokalis.

Meskipun sama-sama identik dengan nuansa sunda, sebenarnya sangat berbeda dengan Tigapagi atau Mr. Sonjaya yang secara format band hampir sama namun tetap dengan rasa khas masing-masing. Ada 2 lagu yang berbahasa sunda yaitu "ayakan" dan "Sindoro sumbing". 

Ada beberapa output musik nya yang terkesan kurang harmoni atau saking banyak nya instrument jadi terkesan balap-balapan. Dengan banyaknya instrument yang sudah ada, di beberapa lagu terdapat penambahan Tabla, Bangsing hingga Beatbox.

Di album pertama, sepertinya para personil Parahyena membebaskan semua ide untuk di masukan. Salah satunya adalah penambahan Beatbox di lagu "Sindoro Sumbing". bahkan di awali dengan penggalan lagu berbahasa inggris yang tidak di jelaskan lagu siapa karena tidak ada penjelasan di lirik ataupun di credit. Lalu di lanjutkan dengan keanehan output suara biola yang aneh di detik 40 (seperti tersendat-sendat). Menurut salah seorang teman sih itu kesalahan pada mixing. Atau bisa aja itu memang kesengajaan dari parahyena itu sendiri.

Kalau suka, kalian bisa membeli album ini dengan harga 45.000 di toko-toko CD terdekat atau langsung menghubungi mereka di instagram.com/parahyena

Review singkat.
  • Packaging : 7.5
  • Materi : 7.0
  • Lagu paling reccomended : "Penari"
  • Lirik terbaik : "Penantian diperempatan tiongkok"
  • Musik terbaik : "Berlalu" 
*penilaian secara pribadi, rawan berbeda.

Thanks to : Parahyena.. 

Penulis :
Ashari @arhieashari, kadang sok tau nya berlebihan. Jangan di terlalu percaya! 

Review album lainnya klik disini 

No comments:

Post a Comment