Banner

ADVERTISE

Eksperimen berani Parahyangan Fair 2017

|

padapanik.com - Parahyangan Fair, sebuah festival tahunan Universitas Parahyangan yang masih belum kehabisan ide. Ditengah semakin banyaknya festival kampus maupun pensi yang beradu kemegahan tiap tahun, butuh ide yang sedikit lebih fresh untuk menarik perhatian. Gak cuma mengandalkan nama besar pemanggung. 

Dari line up nya saja, saya pribadi tidak begitu tertarik untuk hadir. Sudah bisa dibayangkan, Para penonton akan histeris melihat Elephant kind dan bakal ikut bernyanyi sepuasnya saat menonton Maliq n d'essentials. Dan Bumi Sangkuriang sebagai venue nya sudah kebayang bakal seperti apa. 


Kedatangan saya disambut dengan berbagai macam tenant makanan dan sponsor yang membujuk untuk di datangi. Beberapa menu pun akhirnya menjadi pilihan saya sebelum masuk terus berjalan kaki. Duduk lesehan di rumput, kali ini saya di sambut dengan beberapa film pendek yang ternyata juga bagian dari acara. Film Filosofis berjudul "Box" cukup menarik perhatian saya. Satu lagi, "Mata Uang" yang memanjakan mata tapi arahnya kurang jelas kemana. Beberapa lainnya adalah masalah terbesar dalam produksi film pendek kampus. Audio yang kurang jelas. 

Menempatkan film pendek sehabis magrib tentunya menjadi ide brilian, karena penonton mulai merapat dengan jajanan nya masing-masing. Mereka berharap idola nya akan segera naik ke panggung. Nyatanya film pendek dijadikan appetizer yang cukup dilirik. Fasilitas pemutar film pun cukup niat. 


HMGNC tampil menjadi pembuka di malam hari. Trio elektro pop ini tengah menyelesaikan album baru mereka. Malam tersebut menjadi momen berharga karena ada 2 bocoran lagu baru yang dibawakan. Bahkan salah satunya belum punya judul. Di lanjut dengan idola anak muda masa kini. Elephant Kind yang kali ini membawa nama "Elephant Kind x Sand Painting" yang tidak begitu menarik perhatian saya. Bukan karena tidak suka, saya punya album mereka loh. Tapi penampilan band dalam sebuah acara seperti ini, hanya memprioritaskan untuk menghabiskan setlist mereka. Sehingga mudah di tebak. 

Sebelum penampilan mereka, Film Pendek berjudul "Julian Day" karya Gianni Fajri sangat menarik perhatian. Mungkin karena kualitas nya diatas beberapa film pendek sebelumnya. Film ini akhirnya bisa saya saksikan setelah mendengarkan promosi nya di salah satu TV swasta. Film ini diangkat dari EP Elephant Kind. 


Harusnya saya sudah pulang ketika Elephant kind menyelesaikan lagu terakhirnya. Penonton mulai semakin merapat menunggu band headliner nya. Tiba-tiba dari sisi timur panggung hadir sebuah pertunjukan tambahan. Seorang wanita mungil bermain ukulele dan beberapa orang lain yang berperan sebagai pekerja. Satu lagi, wanita yang berperan sebagai mandor galak dan tegas. Mereka memainkan teater? Ini gila sih.


Yang pertama, mereka semua adalah mahasiswa yang jelas bukan pemain teater (kelihatannya), ya kedua mereka memainkan teater yang pastinya punya pesan yang berat dan tersirat. Sehingga penonton diajak berpikir untuk memahami. Yang ketiga! Mereka tampil sebelum band utama! Bayangkan betapa tidak sabarnya penonton menunggu Maliq n' d'essentials malam itu. Dan betapa beban nya para pemain dan panitia. Gimana kalau penonton ngamuk? Untung saja tidak terjadi, hanya keluhan-keluhan tanpa henti yang terdengar di telinga.

Sebenarnya pesan yang dibawakan sangat positif. Meskipun banyak adegan slaptick dan kata makian. Tapi mereka sedang menjalankan fungsi sebagai mahasiswa yang kritis dan peka terhadap masalah sosial. Terdapat papan bertuliskan "dilarang, kecuali pribumi" sudah mewakili banyak hal. Ditambah lagi yel-yel "ser geser-geser, sur gusur-gusur" begitu nempel dikepala. Banyak hal yang tidak dimengerti, tapi yang bisa saya tangkap adalah keberanian. Setelah pertunjukan yang kurang lebih 15 menit tersebut, dilanjutkan dengan penampilan tarian daerah. Masih nekat aja..

"Untung Band terakhir Maliq n d'essentials. Bukan Slank.."

Hingga tiba saatnya yang dinanti-nanti. Band spesialis lagu-lagu hits tersebut akhirnya manggung dan menyenangkan penonton. Sayang sekali, resiko dari eksperimen sebelumnya membuat band yang dinanti tersebut harus di cut karena sudah pukul 23.00 malam. Dan acara harus segera dibubarkan.
Terlihat para penonton masih kecewa hingga beberapa menit masih setia di depan panggung meskipun sang idola sudah tidak di hadapan mereka.


Setidaknya keberanian tersebut harus diacungi jempol sih. Saya (pribadi penulis) butuh kejutan ketika datang ke acara kampus atau pensi semacamnya. Karena festival harusnya menyatukan berbagai hal. Bukan suguhan musik saja. Parahyangan Fair sepertinya memahami itu.

Penulis :
Ashari @arhieashari.  
Foto : 
Dwiki @iamdewe.

No comments:

Post a Comment