Banner

Review : 27 Steps of May

|

padapanik.com - Ditengah dominasi film Avengers : End Game yang menguasai hampir diseluruh studio bioskop Indonesia (bahkan dihari pertama di putar selama 24jam), ada dua film Indonesia yang menarik perhatian. Blunder sih memang, merilis film bertepatan dengan Avengers pasti akan di nilai sebagai pertaruhan yang sangat berani, atau mungkin mereka gak peduli filmnya bakal laku atau enggak. Dua film tersebut diantaranya adalah Kucumbu tubuh Indahku karya Garin Nugroho dan 27 Steps of May karya Ravi Bharwani. Keduanya diputar terlebih dahulu di festival-festival luar negeri sehingga bisa disimpulkan kalau keduanya dibuat bukan untuk komersil. Kali ini padapanik akan mereview salah satu dari kedua film tersebut, jelas bukan film yang pertama karena pemutaran nya di boikot di berbagai kota di Indonesia. 
May (Raihaanun), Gadis SMP berumur 14 tahun yang ceria dan aktif. Sepulang sekolah ia menyempatkan diri untuk bermain di sebuah pasar malam. Malam yang menyenangkan pastinya. Menuju pulang, May di sekap oleh beberapa pria dewasa. Ia di perkosa dan di siksa. May pulang kerumah nya saat larut malam, dengan pakaian yang berantakan dan tatapan kosong. Selama delapan tahun May menjadi trauma, ia bahkan tidak pernah berani keluar rumah. Di sisi lain, Ayah May (Lukman Sardi) juga terkena dampaknya. Menanggung rasa bersalah bertahun-tahun atas apa yang terjadi terhadap May dan dilampiaskan dalam arena bertarung. 
Padapanik pernah mereview film "Istirahatlah kata-kata"  sebuah film yang merepresentasikan rasanya hidup seorang diri. Film tersebut berhasil menvisualisasikan ketakutan, kegelisahan sekaligus kesepian dalam sebuah karakter. Sedangkan 27 Steps of May menvisualisasikan trauma yang sangat mendalam. Keduanya memiliki kesamaan, Tidak ada plot twist atau ending yang mencengangkan tapi berhasil menyampaikan rasa.

Film ini alur nya sangat lambat, buat yang gak biasa pasti akan bosan. Film ini mencoba menjelaskan perlahan-lahan kepada penonton tentang dampak yang dirasakan oleh May sebagai korban. Selama film, May nyaris tidak ada dialog. Bisa dibilang, Raihaanun sukses memerankan sebuah film bisu (atau nyaris bisu haha).

Hanya ada 3 latar atau cerita yang membangun film ini. Yang pertama adalah dunia May. Berlokasi di dalam rumah, kamar May dalam rentang waktu pagi hingga siang. Dimana hampir tidak ada warna dan kehidupan nya yang totally monoton. Hidup bersama ayah nya tanpa keluar satu patah kata pun selama delapan tahun.

Yang kedua adalah dunia Ayah May di arena bertarung, luapan rasa bersalah dan emosi dikepala dituangkan kepada lawan-lawan nya. Latar nya hampir selalu menunjukan malam hari.

Yang ketiga adalah siang hari, scene paling santai dalam film ini. Bisa dibilang jadi scene pemecah keheningan karena ada unsur komedi yang tidak kalah seru. Scene ini adalah saat dimana Ayah May berkomunikasi dengan satu-satunya sahabat nya. Karakter yang di perankan oleh Verdi Solaiman disini menjadi satu-satu nya karakter yang paling positif dalam film ini.

Ketiga bagian ini terus berulang sehingga penonton dibuat terbiasa dengan dunia May yang memang sangat lambat dan monoton. Lalu dalam proses pembiasaan nya kepada penonton, mulai dimasukan unsur-unsur kecil yang mengakibatkan perubahan-perubahan kecil terhadap hidup May. Setiap perubahan sederhana yang ditampilkan akan mengakibatkan penonton bioskop merespon.

Scene favorit saya adalah ketika May menggerakan sedikit piring berisi lauk untuk membantu Ayah nya. Scene se-simpel tersebut membuat satu bioskop bereaksi.

Film 27 Steps of May tidak tayang di semua bioskop, tapi cukup mengejutkan saat tahu film ini bertahan cukup lama penayangannya.

Formula 27 Steps of May mungkin cukup fresh untuk kalian yang belum terbiasa menonton film festival atau untuk kalian yang bosan dengan formula film yang sama.

8.5/10 

No comments:

Post a Comment