Banner

Banner

ADVERTISE

FIKOM FESTIVAL 2015: Tingkatkan Social Awarness Lewat Bincang Hangat dan Suguhan Musik

|
www.padapanik.com - Gadget dalam kehidupan modern sedikit banyak telah mempengaruhi cara manusia dalam berkomunikasi. Sosial media yang terus mengalami perkembangan mau gak mau turut merubah gaya hidup kamu buat bersosialisasi dengan orang-orang. “Generasi merunduk” seringkali menjadi label baru yang melekat pada anak muda masa kini. Kalau dulu orang-orang lebih sering nongkrong di warung kopi buat ngumpul dan kebiasaan itu justru mulai luntur di era digital karena keberadaan gadget seringkali membuat kita lebih sering fokus nongkrongin layar handphone waktu lagi kumpul bareng temen atau keluarga.

Gimana dengan kamu sendiri nih? Seberapa besar pengaruh sosial media yang katanya mampu membuat komunikasi lebih mudah dan efektif. Apa kamu type orang yang lebih suka ngobrol lewat HP, diskusi di multiple chat line, atau liatin doi cuma lewat display picture di sosial medianya. Komunikasi lewat gadget memang mempermudah kita buat berhubungan dengan orang yang jaraknya jauh dengan kita tapi ada beberapa esensi yang gak bisa tergantikan dari komunikasi secara langsung. Hal itulah yang coba di suarakan oleh mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Universitas Islam Bandung (Unisba) yang menggelar perhelatan Fikom Festival 2015 dengan tema Hearing: How We Act Each Other By Doing.


Tema hearing yang diinisiatori oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fikom Unisba ini diambil dengan maksud meningkatkan social awarness masyarakat khususnya mahasiswa dalam hal komunikasi. Sebelum disuguhi hiburan musik, sebuah perbincangan hangat juga menjadi rangkaian acara inti dari Fikom Festival tahun ini. Sebuah talkshow bertajuk NGOBROL YUK “ANTARA GADGET & SOSIAL” merupakan salah satu bentuk kepedulian mahasiswa Fikom Unisba terhadap fenomena gadget yang dirasa terlalu mendominasi kehidupan sosial saat ini.

Berlokasi di kampus utama Unisba, event yang digelar pada Sabtu (19/12) ini dimeriahkan oleh sejumlah band yakni Jionara, Need Om Broto, Running Dog dan Imaginary. Memasuki musm hujan yang datang dipenghujung tahun dekorasi payung berwarna kuning menghiasi area penonton di depan panggung seolah siap menyambut rintik hujan yang seakan telah menjadi rutinitas di kota Kembang belakangan ini.


Setelah panggung dipanaskan oleh lantunan lagu dari penampilan band sebelumnya, Mustache and Beard yang mengusung genre musik folyfolkafolketsra didapuk menjadi guest star pertama yang ditugaskan untuk membangun suasana Fikom Festival menjadi lebih ceria lewat lagu-lagunya. Suara float yang dimainkan secara apik oleh Afif pada aksi pembukanya, terdengar merdu  dan mampu membuat penonton yang datang lebih intim untuk merapatkan barisan ke tengah venue. Band yang identik dengan kumis dan brewok ini membawakan beberapa lagu diantaranya Late Night, Morning Life, Rumput, Hujan Kemarau, dan Tambora.

Meskipun rintik hujan sempat mewarnai saat acara berlangsung, rupanya hal ini tidak menyurutkan antusias sebagian pengunjung untuk tetap bertahan. Selepas adzan maghrib salah satu mahasiswa dikampus tuan rumah Anton Maul memberanikan diri untuk unjuk gigi dan mencairkan kembali suasana panggung dengan stand up comedynya. Hal ini sontak disambut gelak tawa pengunjung yang menyaksikan aksi Anton memecah suasana dengan kalimat humor yang dia lontarkan.


Memasuki pukul tujuh malam area venue mulai terlihat sesak oleh pengunjung yang semakin bertambah dan tak sabar menyaksikan penampilan band berikutnya. Grup musik asal Bandung Parahyena pun naik ke atas panggung dan mulai memainkan gitar, contrabass, guitarlele, violin, cajon, bangsing yang berpadu harmoni dimainkan oleh para pesonilnya. Menyuguhkan lagu-lagu yang kental dengan musik bernuansa akustik, Parahyrna berhasil membuat penonton menari dengan lagu-lagunya. Salah satu lagu teranyar yang diramu dan terinspirasi dari salah satu puisi dari sastra sunda berjudul ayakan menjadi penutup penampilan mereka.

Salah satu line up artist yang ditunggu-tunggu oleh pengunjung Fikom Festival tahun ini adalah Elephant Kind (EK). Band indie asal Jakarta yang berhasil mencuri perhatian masyarakat Bandung pada penampilannya di MUSCA beberapa waktu lalu. Digawangi oleh Bam Mastro, Dewa Pratama, Bayu Adisapoetra, dan John Paul Patton, band ini sukses menghidangkan musik dengan instrumen tak biasa ini dan berhasil menarik perhatian pecinta musik untuk terus update mengikuti perkembangan yang satu ini.

Elephant Kind yang memiliki konsep cross genre ini berhasil membius penonton untuk tidak beranjak dan menikmati lagu mereka yang didominasi bahasa Inggris dan memanjakan telinga. Sambutan hangat band ini terlihat saat penonton ikut melantunkan lagu berjudul Oh Well yang dilantukan Elepant Kind. Di tengah penampilannya, Bam sang vokalis mengatakan Fikom Festival merupakan moment yang spesial karena menjadi gigs terakhir EK yang menutup penghujung tahun 2015. Bam juga mengungkapkan kecintaanya terhadap Bandung yang memiliki nuansa menyenangkan untuk menjadi tempat singgah. “Rencana untuk album selanjutnya, kita kasih sedikit bocoran karena bakal bikin salah satu lagu di Bandung. We Love Bandung”, ujarnya.


Pure Satruday band indie yang sudah melanglang buana dari tahun 1994 ini telah menjadi penutup yang manis dalam perhelatan musik ini. Band yang menjadi pelopor lahirnya band-band Indie di Bandung tidak pernah kehilangan pendengar setianya. Hal ini terbukti dengan cukup banyaknya penggemar Pure Saturday yang datang ke gelaran Fikom Festival tahun ini. Berdandan dengan kacamata hitam danmengenakan jaket jeans berwarna biru, Satrio berhasil menyapu pandangannya ke seluruh area penonton dengan aksi panggungnya.

Di tengah penampilannya secara spontan sang vokalis nampak tak sungkan untuk berbaur dan menyodorkan mic ke arah penonton untuk ikut menyumbangkan suaranya. Bahkan secara khusus, band yang satu ini memberikan kesempatan bagi penonton untuk merequest lagu apa yang ingin mereka dengar. Dari sejumlah hits dari album Pure Saturday, akhirnya lagu Kosong menjadi salah satu lagu nostalgia yang paling banyak diminta dan disambut antusias oleh penonton.

Oleh : Feari 
Foto : Aldira 

AXIS MUNDI BDG : MISI DISTRIBUSI MERATA POLKA WARS DI BANDUNG

|

www.padapanik.com - Beberapa hari yang lalu setelah mendapat kabar kalau kami menjadi bagian dari media partner di sebuah konser bertajuk "Axis Mundi Bandung", kami sedikit gelagapan. Bagaimana tidak, konser dengan kepemilikan band asal Jakarta bernama "Polka Wars" ini masih cukup asing di telinga kami. Akhirnya dengan waktu yang cukup terbatas, kami mencari tahu terlebih dahulu melalui internet, lagu "Mokele" pun menjadi lagu pertama yang akrab di telinga dan beberapa pembahasan tentang prestasi yang telah dicapai band indie rock ini menjadi salah satu hal mengapa konser "Axis Mundi" harus menjadi tujuan utama kami. Sayangnya hingga selesai mengobrak-abrik google, kami tidak mendapatkan pencerahan tentang arti "Mokele" atau ini semacam mantra? haha

Sehari sebelum konser akhirnya kami berkesempatan bertemu langsung, bukan konferensi pers seperti judulnya, tapi lebih ke ngobrol santai. Bertempat di cafe DU71, kami bersama beberapa media lainnya akhirnya kami mendapat kan beberapa bocoran tentang konser yang sedang banyak di bicarakan di bandung tersebut. Yang pastinya akan banyak kejutan.

Konser ini adalah hasil kerjasama antara Polka Wars dan Converse. Jika di tahun sebelumnya converse menggaet Morfem untuk menyelesaikan album "sneakerfuzz" nya. Tahun ini, Polka Wars lah yang mendapat kesempatan untuk merekam album mereka di Brooklyn, New york, Amerika serikat setelah mengalahkan nama-nama familiar seperti Barefood, Seaside, Stars and Rabbit dan Monkey to Millionaire. Setelah sukses dengan konser di Jakarta, kini mereka optimis mengulang kesuksesan di tanah parahyangan. Uniknya, beberapa penonton jauh-jauh datang dari jakarta untuk menonton kedua kalinya konser ini, secandu itu kah polka wars?

Acara di mulai sekitar setengah 8 malam, sebelumnya perhatian kami tertuju pada penjualan cassette tape, merchandise, dan juga poster yang terbatas. Jadi siapa cepat dia dapat. Oh iya, segera lah masuk kedalam auditorium karena Mooner akan memanaskan panggung dengan musik nya yang menghentak dengan nuansa blues. Project dari Rekti The SIGIT ini memang cukup ditunggu karena belum banyak kesempatan untuk menonton mereka. Selain musiknya yang unik, vokalis nya pun memiliki suara yang unik, Diluar status mereka sebagai band pembuka, 5 lagu berhasil di bawakan dengan menimbulkan rasa keingintahuan yang besar penonton terhadap band tersebut.


Dan tiba saatnya, Karaeng Adjie (Vokal / Gitar), Billy Saleh (Gitar), Xandega Tahajuansyah (Bass), dan Giovanni Rahmadeva (Drum / Vokal) memasuki panggung dengan ciri khas fashion yang rapih dan kalem, membawakan beberapa lagu di awal seperti "Horse's hooves" dan "Coraline", penonton yang sudah mulai asik menikmati ternyata tidak dirasakan demikian oleh Dega dan Deva terlihat kesal karena monitor sound yang tidak keluar dan beberapa kesalahan teknis lainnya. Salah satu yang unik dari band ini adalah persona Aeng yang berbeda. Entah kenapa penonton begitu mudah tertawa dari apapun yang di lontarkan pria dengan aksen yang unik, terdengar seperti aksen makassar, tapi beberapa kali juga terdengar seperti betawi haha. Padahal saat konferensi pers, dia lebih banyak diam.


Kehadiran Ade Paloh (Sore) di akhir lagu "Tall Stories" dan Herald Reynaldo (L'Alphalpha) yang bermain perkusi dan juga ikut bernyanyi di lagu "Alfonso" menjadi kejutan penting dalam konser ini.

Setelah break, Aeng keluar sendirian untuk menghibur penonton dengan mencover lagu "Mad World" (OST. Donnie Darko) dan "Thinking about You" milik Frank Ocean yang tidak ada di setlist. Hal ini untuk mengulur waktu hingga kesalahan pada sound system bisa di beres di lagu selanjutnya. Dan akhirnya Deva mengambil alih vokal di lagu "Lovers" dengan nuansa yang berbeda, diiringi alat musik gesek traditional yang menyayat, nuansa lagu ini menjadi lebih dark dari lagu aslinya. Mungkin menjadi salah satu lagu yang cukup menarik perhatian malam itu.

"Kami melakukan konser kedua di Bandung biar distribusi nya merata" ungkap Aeng yang berharap bisa manggung dimana saja untuk menyebarluaskan musik Axis Mundi. Hingga akhirnya tiba, satu-satunya lagu yang kami hafal haha, "Mokele" akhirnya mengizinkan kami untuk sing along "often see you out there, Mokele-mbebe" dan di akhiri dengan track terpanjang dalam album Axis Mundi, "Piano Song" yang klimaks dengan kejutan di vokal latar yang diisi oleh Rekti dan Haikal Aziz (Sigmund). Di akhir, layar menampilkan video klip "top gear" sebagai kejutan. Para personil sudah turun panggung, namun penonton masih bertahan hingga klip selesai. Sebuah list bonus akhirnya dibawakan, "sanctuary" membawa para personil dan penonton lebih lama lagi di panggung dan menutup malam itu dengan puas, bersiap mengulik lebih jauh si Axis Mundi dalam bentuk CD.
i. Satu hal yang lebih penting lagi sebenarnya adalah Visual panggung yang super keren! Sejak beberapa kali menonton langsung acara di IFI Bandung, baru kali ini ada visual panggung yang benar-benar menunjang band nya dengan sangat niat dan selaras~

Oleh : Ashari
Foto : Dewe

MANFEST VOL.2 "TEES IN ACTION" : KAOS SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI

|

www.padapanik.com - Setelah di gelar Mankom Festival (Manfest) yang menggabungkan berbagai hiburan dan fashion kedalam sebuah festival, akhirnya di akhir tahun 2015, acara yang di gagas oleh Keluarga Mahasiswa Manajemen Komunikasi (KMMK) Fikom, Unisba ini kembali digelar lebih besar dari sebelumnya. Jika tahun lalu mengangkat tema Fashion "british infashion" tahun ini mencoba lebih simple dengan mengangkat tema "Tees in action". 


"Tees in action" pada gelaran Manfest vol.2 ini mengangkat kekuatan Kaos sebagai sebuah trend fashion yang tidak ada matinya, dalam event ini, di selipkan berbagai catatan sejarah kaos dan berbagai "kaospedia" yang memberikan edukasi tentang perkembangan kaos di dunia. Tidak hanya itu, Kaos juga di lihat oleh teman-teman KMMK sebagai sebuah media komunikasi dan sebagai identitas diri penggunanya. Wah ini cukup menarik khususnya karena Mankom dibawah bidang kajian Fakultas Ilmu Komunikasi

Tentunya selain pengetahuan tentang Kaos dan lain-lainnya, Acara ini juga di lengkapi tenant-tenant makanan dan fashion yang menarik perhatian. Selain itu, band-band pemenang audisi seperti Magic Haze, John Adalah, Jionara, Zookeeper, Aufklarung, dan Elora mampu mempertanggungjawabkan performa nya di panggung. Acara ini juga selingi oleh Fashion show dari teman-teman mahasiswa dengan menggunakan kaos terbaiknya. 

Setelah selesai break magrib dan Isya, akhirnya tiba saat nya bagi band-band indie yang ditunggu-tunggu untuk naik ke panggung. Di mulai dari Tone Lighter, Fortbeat, Sisi lain, hingga alunan musik folk klasik dari Rice cereal & Almond Choco yang bikin suasana venue yang bahagia meskipun hujan tidak henti-henti nya. Manfest tahun ini ditutup dengan penampilan Ruang musik Director yang baru saja merilis single perdana nya yang berjudul "Bila rasa itu telah sirna". 

Oleh : Ashari
Foto : Aldira 

DJAKARTA WAREHOUSE PROJECT 2015 : DWP15 IS THE MISSION!

|

www.Padapanik.com - Djakarta Warehouse Project (DWP) kembali digelar tahun ini selama dua hari pada tanggal 11 & 12 Desember 2015. Yang spesial, kali ini www.padapanik.com mendapat kesempatan untuk menjadi media partner dalam event Electronic Dance Music terbesar di Indonesia ini, bahkan di Asia. Ismaya Live selaku promotor tidak segan-segan untuk menjadikan DWP15 sebagai event Electronic Music Festival terbesar se-Asia. Terbukti dengan menjadikan event tahunan ini sebagai yang terbesar selama sejarah DWP diselenggarakan. Hal tersebut terlihat dari DJ/producers yang dihadirkan seperti Jack Ü, Tiesto, Armin van Buuren, Axwell^Ingrosso, Major Lazer, Porter Robinson, Kaskade, DJ Snake, Oliver Heldens, R3hab, dan masih banyak lagi DJ/producers ternama lainnya baik nasional maupun internasional. Selain itu event yang bertempat di Jiexpo Kemayoran, Jakarta ini juga memproduksi stage dan dekorasinya menjadi lebih megah dari yang sebelumnya bahkan bisa dikatakan setara dengan event-event EDM internasional lainnya seperti UMF, EDC, Tomorrowland, dan lain-lain. DWP15 sama seperti DWP sebelumnya, terdiri dari 3 stage dengan Garudha Land sebagai stage utamanya. Selain itu dua stage lainnya diberi nama berbeda pada setiap harinya, pada hari pertama diberi nama Mad Decent Stage dan  The Darkest Side Stage. Sedangkan pada hari kedua, stage tersebut menjadi Neon Jungle Stage dan Cosmic Station Stage. Setiap stagenya pun memiliki tema tersendiri sesuai dengan nama dan DJ yang akan tampil di stage tersebut. Namun ada kabar yang kurang menyenangkan dengan batal hadirnya beberapa DJ ternama seperti DVBBS, Duke Dumont, dan Dillon Francis karena alasan tertentu. Akan tetapi Ismaya Live pun dengan sigap mencari penggantinya dengan menambahkan Generik, Myrne, dan Estiva kedalam line up DWP15.


Pada hari pertama, antusiasme pengunjung sudah terlihat sejak gate dibuka pada pukul 16.00 WIB. Antrian pun semakin mengular ketika menjelang petang. Terlihat ada yang unik di DWP15 kali ini dengan adanya dekorasi yang megah bertuliskan DWP di depan gate masuk. Sementara di dalam venue,  Garudha Land Stage tetap menjadi pusat perhatian. Dikarenakan selain menjadi stage utama, Garudha Land Stage kali ini juga lebih megah lagi dekorasinya dengan mengandalkan visual diseluruh bagiannya serta dilengkapi lightning dan laser yang bertebaran disetiap sudut stage. Yang unik dari Garudha Land Stage kali ini adalah dekorasi kepala garuda yang bisa bergerak ke kanan dan ke kiri dengan bagian matanya yang bisa mengeluarkan cahaya laser. Untuk para pengisi setiap stagenya, para Local Heroes (DJ/producers local) menjadi pembuka sebelum para guest star yang mengambil alih kendali di setiap stage. Local Heroes yang didaulat Ismaya Live sebagai pengisi hari pertama DWP15 yaitu Dipha Barus, Trilions, W.W, Devarra, Jidho, Patricia Schuldtz, Tiara Eve, Nina Felina, Hudi, Mikey Moran, Kronutz, Apsara, Mc Cherryl, dan Mc Drwe. Sementara untuk DJ/producer internasionalnya DWP15 menghadirkan R3hab, Oliver Heldens, Jack Ü, Axwell^Ingrosso, Armin van Buuren, Myrne, Cashmere Cat, What So Not, Major Lazer, Philip George, Claptone, Jamie Jones, dan Claude von Stroke. Dengan banyaknya line up yang tersebar diberbagai stage dengan jadwal yang berbenturan, maka kami memutuskan untuk menghadiri penampilan dari R3hab, Oliver Heldens, Jack Ü, Philip George, Myrne, dan Major Lazer. Untuk yang pertama, R3hab menjadi DJ internasional pembuka pada event DWP15. Dengan membawakan musik-musik bergenre electro house dan bounce yang dibawakan secara energik, R3hab berhasil membakar euphoria penonton yang memadati area Garudha Land. Hits-hits andalannya pun turut dibawakan seperti ‘Karate’, ‘Soundwave’ dan single terbarunya yang berkolaborasi bersama KSHMR, ‘Strong’. Hingga penampilannya harus diakhiri yang kemudian dilanjutkan oleh pelopor genre Future House, Oliver Heldens. ‘Wombass’ menjadi lagu pembuka dari penampilan Oliver Heldens. Pemilik Heldeep Records ini juga turut membawakan lagu-lagu yang sering dimainkannya ketika perform diberbagai negara seperti ‘Shades Of Grey’, ‘BunnyDance’, ‘MHATLP’, ‘Gecko’ dan lagu dari Hi-Lo yang baru saja di rilis ‘Ooh La La’. Pada saat lagu ‘Ooh La La’ dimainkan, Heldens menunjukan keahliannya dengan berdansa ala “Shuffle Dance” di depan DJ boothnya. Lagu ‘Melody’ yang di mashup dengan ‘Runaway’-nya Galantis pun menjadi penutup dari penampilan Oliver Heldens di Garudha Land Stage. Setelah Oliver Heldens, saatnya DJ/producers yang paling ditunggu-tunggu di gelaran DWP15 ini. DJ yang saat ini sedang menjadi fenomena dikancah musik EDM diberbagai negara. Kunjungannya ke Indonesia pun menjadi yang pertama kalinya di Asia. DJ tersebut adalah Skrillex dan Diplo yang tergabung atas nama Jack Ü. Tampil sekitar satu jam, Jack Ü tak henti-hentinya membuat para pengunjung untuk terus berdansa dengan tampil interaktif dan energik. Dubstep, Trap, Twerk, Moombahton, Electro House dan Future House pun menjadi genre musik yang dimixing dengan rapih oleh Jack Ü. Lagu dari debut albumnya pun turut dimainkan seperti ‘Jungle Bae’, ‘To Ü’, ‘Febreze’, ‘Take Ü There’, ‘Mind’, dan masih banyak lainnya. Dan lagu hasil berkolaborasi dengan Justin Bieber yang menjadi hits diberbagai chart lagu digunakan sebagai penutup dari penampilan Jack Ü, ‘Where Are Ü Now’. ‘I Will Always Love You’ dari Whitney Houston menjadi lagu bonus dari Jack Ü sekaligus berpamitan dari Garudha Land Stage. Setelah Jack Ü masih ada Axwell^Ingrosso dan Armin van Buuren yang perform di Garudha Land Stage. Sementara di The Darkest Side Stage, yang sempat kami lihat adalah penampilan dari Philip George. Dengan memainkan house music ditambah dengan suasana stage yang dark, membuat sensasi yang berbeda dan unik untuk menikmatinya. Lagu ‘Wish You Were Mine’ pun menjadi lagu yang ditunggu-tunggu para pengunjung yang memadati area The Darkest Side Stage. Selain Philip George ada juga Calptone, Jamie Jones, dan Claude von Stroke yang meramaikan stage ini. Dan di stage yang terakhir, Mad Decent Stage merupakan stage spesial karena stage ini merupakan stage dari record label Mad Decent yang dipimpin langsung oleh sang owner, Diplo. Di Mad Decent Stage ini performernya pun berasal dari record label Mad Decent itu sendiri seperti Myrne, Cashmere Cat, What So Not, dan Major Lazer. Namun yang sempat kami lihat hanya penampilan dari Myrne dan Major Lazer. Untuk Myrne, DJ asal Singapore yang baru saja mengeluarkan ep album ini memanjakan pengunjung dengan musik trap dan future bass yang menjadi ciri khasnya. ‘Brand New’ pun menjadi single dari ep album terbarunya yang dibawakan dalam penampilannya di DWP15. Sementara Major Lazer menjadi performer pamungkas di Mad Decent Stage. Diplo pun kembali hadir bersama Major Lazer setelah beberapa saat yang lalu juga tampil bersama Jack Ü. Penampilan dari Major Lazer ini sangat “pecah!”, karena banyak kejutan dan aksi panggung yang diberikan. Salah satunya adalah hadirnya 4 wanita cantik dan seksi yang menjadi penari latar khusus untuk penampilan dari Major Lazer. Para penari latar tersebut pun berdansa dan memberikan aksi teatrikal mengikuti irama disetiap lagunya. Selain itu pada pertengahan penampilannya, Major Lazer memberikan aksi panggung berupa bola besar yang digulingkan kepada penonton namun dalam bola tersebut berisikan Diplo yang ikut terguling di dalam bola tersebut. Kejutan yang terakhir yaitu Diplo dan para penari latarnya sempat memakai kostum timnas Indonesia dan mengibarkan bendera Indonesia dan bendera Major Lazer yang bertuliskan “Peace Is The Mission” yang merupakan album terbaru dari Major Lazer. Group DJ bergenre reggae/jamaica EDM ini pun turut membawakan single-single andalannya seperti ‘Powerful’, ‘Bumaye’, ‘Get Free’, ‘Roll The Bass’ dan ‘Lean On’ yang juga didaulat sebagai lagu perpisahan Major Lazer di Djakarta Warehouse Project 2015. Penampilan dari Major Lazer tersebut sangat membuat klimaks hari pertama DWP15 dan membuat penasaran akan ada kejutan apalagi di hari ke dua.




Hari kedua, pengunjung masih terlihat antusias tidak kalah dengan hari pertama. Karena di hari ke dua ini akan ada penampilan dari Galantis, Generik, Porter Robinson, Headhunterz, Estiva, Gabriel Dresden, Sied van Riel, DJ Snake, Kaskade, dan Tiesto. Untuk Local Heroesnya sendiri ada Justeen, Shaan, Hizkia, Bionixxx, Aay, Joyo, Jevin Julian, Sliqq, Bottlesmoker, W.W, Osvaldo Nugroho, March Mayhem, Dree, Attila Syah, LTN, Mc Drwe, dan Mc Bam.Yang berbeda untuk hari ke dua adalah stage Mad Decent dan The Darkest Side diganti menjadi Neon Jungle dan Cosmic Station. Neon Jungle adalah stage yang berisikan DJ/producers bergenre underground. Sedangkan Cosmic Station berisikan DJ/producers bergenre trance. Pada hari ke dua ini, kami memutuskan untuk menghadiri penampilan dari Jevin Julian, Galantis, DJ Snake, Porter Robinson, dan Tiesto. Performer pertama yang kami kunjungi yaitu Local Heroes yang tampil di Neon Jungle Stage dan menjadi finalis dari The Remix, Jevin Julian. Jevin tampil dengan ciri khasnya yaitu mebawakan musik bergenre dubstep yang dimixing dengan apik. Penampilan dari Jevin ini cukup membuat penasaran para pengunjung yang ingin melihat aksi panggungnya secara langsung karena popularitasnya di acara The Remix yang sudah tidak diragukan lagi. Untuk DJ/producers internasional yang pertama dikunjungi adalah Galantis. Di DWP15 ini, Galantis tampil secara live set dan ini merupakan kunjungan pertamanya ke Indonesia. Sang pemilik lagu ‘Runaway’ ini pun menjadikan lagu tersebut sebagai pembuka dari penampilannya di Garudha Land Stage hari kedua. Galantis terlihat sangat semangat tampil di DWP15 yang terlihat dari aksi panggung dan mimik wajah yang menandakan seperti takjub bisa tampil di DWP15. ‘Gold Dust’,  ‘Peanut Butter Jelly’, ‘Louder, Harder, Better’, ‘In My Mind’ dan lagu bergenre progressive house dan electro house turut dibawakan oleh Galantis dalam live setnya. ‘Runaway’ pun kembali dibawakan kedua kalinya sebagai lagu penutup dan menjadi penutup yang indah dari Galantis di DWP15. Setelah Galantis, giliran DJ/producers yang paling ditunggu-tunggu di hari kedua yaitu DJ Snake. Sama seperti Galantis, DJ Snake juga baru pertama kalinya menginjakan kaki di Indonesia. DJ yang berciri khas selalu memakai kacamata hitam ini tiada hentinya membuat pengunjung bergoyang. ‘Turn Down For What’, ‘Lean On’, ‘Get Low’ dan ‘You Know You Like It’ juga turut dibawakan oleh sang turntablist ini. DJ Snake juga mengajak pengunjung yang memadati area Garudha Land untuk jongkok yang kemudian dilanjutkan dengan loncat sesuai aba-aba dari DJ Snake. Selain itu juga pada lagu terakhir, DJ Snake mengajak penonton untuk menyalakan lampu dari handphone yang dibawa masing-masing sambil mengangkatkan kedua tangan. Kemudian lagu yang baru saja dirilis akhir-akhir ini pun dimainkan yaitu, ‘Middle’ sekaligus menjadi penutupan yang klimaks dari DJ Snake. DJ Snake pun mengatakan di media sosial jika dia berasa seolah seperti seorang lagenda setelah tampil di DWP15. Selanjutnya ada Porter Robinson yang tampil di Neon Jungle Stage. Porter Robinson sebelumnya pernah main di DWP12, namun di DWP15 ini Porter Robinson tampil beda karena selain tampil secara live set juga genre musiknya yang telah berubah. Tampil live set yang dipadukan dengan visual yang khusus, Senpai Porter Robinson berhasil menghipnotis para pengunjung yang hadir di area Neon Jungle. DJ/Producers yang terinspirasi dari kartun jepang, anime ini menggunakan visual kartun anime sebagai perpaduan dengan musik yang dibawakannya. Penampilan dari Porter Robinson membuat emosi pengunjung terbawa dari perasaan sedih, gembira, kecawa, bahkan marah sesuai dengan musik dan visual yang dibawakan. ‘Flicker’, ‘Sad Machine’, ‘Lionhearted’, ‘Goodbye To a World’ juga dibawakan dan ‘Language’ menjadi lagu pamungkas yang membuat emosi penonton jadi merasakan happy ending. Dan penampil terakhir sekaligus penutup dari DWP15 ini diberikan kepada sang legenda musik EDM, Tiesto. Nampaknya pemberian penampilan pamungkas kepada Tiesto ini sangat pantas karena melihat penampilannya yang luar biasa. Lagu kolaborasi Tiesto dengan The Chainsmoker, ‘Split (Only U)’ menjadi pembuka dari penampilan Tiesto. DJ/producers asal Belanda ini juga membawakan single-single andalannya seperti ‘Secret’, ‘Chemical’, Wasted’, ‘Lethal Industry’, dan masih banyak lagi yang keseluruhannya dimixing dengan apik. Hingga akhirnya tak terasa pesta kembang api di Garudha Land Stage sudah dinyalakan yang menandakan jika gelaran Djakarta Warehouse Project 2015 ini sudah berakhir. Rasa lelah, letih, pegal pun terbayar dengan penampilan-penampilan dari DJ/producers yang luar biasa dan penuh kejutan baik hari pertama maupun kedua. Sekitar 75.000 pengunjung yang hadir di DWP15 pun dipastikan bangga karena telah menghadiri dan menjadi saksi dari event Electronic Dance Music terbesar se-Asia. Dengan begitu DWP15 Is The Mission, Done! Next Mission, DWP16. See ya!

Oleh : Dewe 
Foto : Dewe



PR FESTIVAL 2015 "HUMANIPHORIA" : SENSASI FESTIVAL MUSIK DI BANDAR UDARA

|

www.padapanik.com - Program kerja terbesar dari Hima PR Unisba kembali sukses digelar untuk yang kedua kalinya. Setelah sukses tahun kemarin, PR Festival kembali digelar di tahun 2015 yang kali ini mengangkat issue tentang lingkungan hijau dengan mengambil tema “Humaniphoria”. PR Festival kali ini terdiri dari berbagai rangkaian acara mulai dari kampanye sosial media, pra event hingga main event yang berisikan festival musik dan bazzar makanan. Berbeda dengan sebelumnya, kali ini main event PR Festival diselenggarakan sebuah Bandara di Lanud Husein Sastranegara. Dengan mengundang band/musisi indie seperti Orkes Minggoe Sore, Hockey Hook, DJ Night Flight, The Fox and The Thieves dan guest star utama, si cantik bersuara alto, Danilla. PR Festival kali ini juga mengajak Komunitas Foodtruck Bandung untuk memeriahkan event tahunan dari Hima PR Unisba ini.

Hari minggu pada tanggal 6 Desember dipilih sebagai hari dimana main event diselenggarakan. Gate pun mulai dibuka pada pukul 13.30 WIB. Dimulai dengan penampilan band-band audisi seperti Locwag, Jionara, Ice Bar Circus, Eyenapatna, dan Egi Et Firsta hingga sekitar jam 4 sore. Meskipun sempat terganggu karena turun hujan di Lanud Husein Sastranegara namun acara tetap berjalan dengan lancar. Kuda Jingkrak menjadi guest star pertama yang tampil. Kemudian dilanjutkan dengan Orkes Minggoe Sore yang menyuguhkan musik folk keroncong nusantara. Setelah Orkes Minggu Sore lalu ada The Fox and The Thieves yang tampil “gahar” dengan ciri khas musik rocknya dan Hockey Hook dengan musik ska punk-nya yang akhir–akhir ini baru saja merilis singlenya yang bertajuk ‘Hey John!’. Semakin malam area sekitar venue pun semakin padat dengan pengunjung yang berdatangan satu persatu baik itu mahasiswa maupun luar Unisba. Night Flight pun di daulat sebagai penampil kedua terakhir dari event PR Festival. Band asal Jakarta yang mengusung genre EDM ini berhasil membuat PR Festival “PECAH!!”. Dengan membawakan lagu-lagu hits EDM seperti lagu dari Martin Garrix, Afrojack, Major Lazer, Jack U, dan lain-lain. Meskipun sempat terjadi kesalahan teknis, Night Flight tetap konsisten untuk memanjakan para pengunjung yang hadir di Lanud Husein Sastranegara dengan tampil secara maksimal.


Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 21.00 WIB yang menandakan saatnya guest star utama, Danilla untuk tampil sebagai performer pamungkas dalam gelaran PR Festival 2015. Tidak butuh waktu lama bagi Danilla untuk mulai menyapa para pengunjung. Pada acara PR Festival ini Danilla mengawali penampilannya dengan lagu ‘My Favorite Things’. Selain itu juga Danilla membawakan single-single andalannya dalam album ‘Telisik’ seperti ‘Senja Diambang Pilu’, Reste Auge Moi’, ‘Berdistraksi’, ‘Oh, No!’, ‘Terpaut Oleh Waktu’, ‘Buaian’, ‘Wahai Kau’, dan ‘Ada Di Sana’. Bahkan pada beberapa lagu, para pengunjung ikut bernyanyi bersama mengikuti alunan lagu yang dibawakan oleh Danilla. Bagi Danilla acara PR Festival ini menjadi pengalaman yang unik karena untuk pertama kalinya tampil di bandara yang menjadikan suara dari lalu-lalang pesawat menjadi nada lain yang mengiringi penampilan dari Danilla. Selain itu juga penampilannya di acara PR Festival ini menjadi sangat intim karena banyak teman-teman dari Danilla yang berasal dari Fikom Unisba. Sehingga dengan kedekatannya tersebut membuat Danilla seperti tampil di rumah sendiri. Bahkan pada pertengahan penampilannya, Danilla mengajak selfie bersama para pengunjung dengan ikut turun dari stage dan berbaur ditengah para pengunjung, Saat di wawancarai setelah penampilannya, Danilla menyatakan sangat senang dapat menjadi bagian dari acara PR Festival ini dan berharap untuk kedepannya PR Festival dapat mencakup massa yang lebih luas lagi dan lebih besar lagi.

Oleh : Dewe 
Foto : Azam 

REPUBLIK PEPES : PEPES YANG BISA NEMBAK GEBETAN

|

www.padapanik.com - Siapa yang tidak kenal pepes? Orang Jawa barat pasti sudah tidak asing lagi dengan cara mengelolah makanan ini, pepes adalah suatu racikan dalam mengolah makanan (biasanya ikan atau ayam), dengan bumbu-bumbu rempah didalamnya lalu dibalut dengan daun pisang selanjutnya di bakar di atas api atau bara api hingga kering. 




Banyak restoran khas sunda yang menyediakan pepes sebagai menu andalan, Republik pepes adalah salah satunya, sebuah rumah makan yang terletak di jalan Sindang Sirna no. 21, Bandung ini menyediakan makanan yang secara keseluruhan merupakan varian berbagai macam pepes, diantaranya pepes ayam, ikan, bahkan daging sapi pun di pepes, dengan racikan khas bumbu rahasia tetapi tidak menghilangkan rasa pepes pada umumnya, yang menarik perhatian adalah menu dengan nama "pepes nembak", apa itu pepes nembak? Sebuah daging ayam olahan yang di bentuk sedemikian rupa menyerupai huruf alphabet dengan tulisan ”Love You” yang disajikan secara unik. Rupanya pihak restoran sangat mengerti akan kebutuhan anak muda jaman sekarang. Selain bisa dimakan, juga bisa dipake buat nembak gebetannya.. hehe. Di beberapa menu pun terdapat tingkatan level pedas yang sedang populer dikalangan anak muda. Pepes dengan level kepedasan sesuai selera menambah nafsu makan pepes yang tidak biasa. 


Republik Pepes memiliki dekorasi yang menarik dan cukup unik dengan arsitektur kayu disetiap sudutnya, membuat nyaman dijadikan tempat bersantap ria bersama keluarga bahkan bersama kerabat pun tetap cozy.. harga pepes dikisaran 30 ribuan sangat mengenyangkan. Penasaran untuk mencoba makan pepes dengan sensasi berbeda? 

Oleh : Aggi 
Foto : Aggi 

SMILE MOTION 2015 : INSPIRASI LEWAT SENYUMAN "PENDERITA CELAH BIBIR"

|

www.padapanik.com - Sebuah event yang mengusung tema charity, memang menjadi salah satu cara yang efektif untuk menyentuh sisi kemanusiaan dalam diri seseorang. Ketika sebagian manusia cenderung tertutup, kurang peka, bahkan tidak perduli terhadap peristiwa apa yang terjadi di lingkungan sekitarnya, ajang charity yang dibalut dengan kemasan menarik menjadi salah satu alternatif yang tepat.

Lewat pagelaran musik yang bertajuk Smilemotion 2015 “A Smile to Inspire”, mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Gigi (FKG) Universitas Padjajaran (Unpad) bekerja sama dengan  Yayasan Pembina Penderita Celah Bibir dan Langit-Langit (YPPCBL) untuk membantu penderita kelainan Celah Bibir dan Langit-langit dari keluarga yang tidak mampu.

Sebagian besar para penderita Celah Bibir dan Langit-langit kadang menjadikan kekurangan mereka sebagai alasan untuk menutup diri dan tidak percaya diri untuk berbaur dengan orang-orang karena merasa berbeda. Padahal banyak orang yang memiliki keterbatasan fisik mampu berprestasi dan menginspirasi orang lain melalui prestasi. Hal ini lah yang mendorong mahasiswa FKG membuat kampanye akbar yang dinamakan SmileMotion.

Meskipun pada hari Sabtu, 5 November Bandung sedang dalam kondisi kurang bersahabat. Hal ini tidak menyurutkan animo pengunjung untuk ikut hadir dan berpartisipasi meramaikan acara ini. Arena konser yang berlokasi di Sasana Budaya Ganesha terlihat cukup padat dan didominasi oleh penonton kalangan muda sejak sore hari.

Kehadiran penonton yang setia menunggu Sore Band sebagai line up artist pembuka, nampaknya kurang berbuah manis. Band yang dijadwalkan akan menghibur penonton pada pukul 16.00 WIB terpaksa molor karena beberapa alasan. Mengingat keterbatasan waktu, band ini pun akhirnya tampil pada pukul 18.30 WIB hanya dengan membawakan tiga buah lagu.

Tampil sebagai satu-satunya artis wanita dalam perhelatan ini, membuat Raisa nampak bercahaya di tengah panggung persis dengan judul lagu yang dia bawakan saat membuka penampilannya. Dibalut dengan busana dress santai dan sorotan lampu panggung, Raisa nampak senang dapat kembali tampil di Bandung selang seminggu kehadirannya di acara berbeda.

Meskipun tampil dengan dominasi list lagu bernuansa mellow, kemunculan Raisa mampu menghipnotis penonton untuk tetap menikmati dan terhanyut dalam lantunan suara merdunya. Pada malam itu Raisa membawakan beberapa lagu diantaranya Serba Salah, Apalah Arti Menunggu, Teka-Teki, LDR, dan beberapa hits lainnya. Di tengah acara, Raisa memberikan kejutan kecil kepada penonton dengan menggaet Barsena sebagai rekan duet untuk membawakan single duet teranyarnya “Percayalah”.


Sebelum menutup aksinya Raisa juga sempat turun ke panggung untuk menyapa dan bersalaman dengan beberapa penonton. Setelah membawa suasana galau ke atas panggung, tembang Could It Be menjadi penutup manis yang mengakhiri penampilannya.

Tak lama berselang Band legendaris Sheila On 7 kembali memanaskan arena festival dengan lagu Hari Bersamanya. Seperti biasa, kiprah band asal Jogja ini selalu disambut hangat oleh penonton yang berasal dari lintas generasi. Suasana  Bandung yang dingin tergambar oleh jaket parka yang dikenakan Duta saat mengawali penampilannnya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama karena aksi panggungya yang atraktif di beberapa lagu, Duta pun mmeutuskan untuk melepaskan jaket dan mengibur penonton dengan kaos oblong berwarna merah karena suasana arena terasa mulai mencair.
Setelah membawakan hits dari berbagai albumnya, Duta pun sempat memberikan sedikit gimmick di tengah aksinya dengan membawakan sepenggal lirik lagu Love Me Like You Do milik artis kenamaan Ellie Goulding. Penonton pun sontak tertawa dan ikut bernyanyi mengikuti komando dari sang vokalis. Band yang juga digawangi oleh Eros, Adam, dan Bryan inipun melantunkan lagu Lapang Dada sebagai salam perpisahan di acara SmileMotion 2015.

Dipercaya sebagai bintang tamu terakhir, Nidji hadir untuk pertama kalinya di Bandung dengan formasi NEV (Nidji Electronic Version) berhasil menyajikan suguhan yang berbeda dari biasanya. Membuka penampilannya dengan lagu Laskar Pelangi, kemunculan band ini disambut oleh riuh penonton yang penasaran melihat band yang dijuluki sebagai master of soundtrack ini.

Konser charity yang memasuki tahun kedua ini juga berusaha melibatkan para penderita bibir sumbing yang telah dioperasi dari YPPCNL untuk ikut berpartisipasi dan meramaikan suasana panggung. Bersama dua orang anak, Giring pun mendendangkan lagu Kau dan Aku serta mengkampanyekan kepada penonton yang datang untuk selalu memberikan support kepada para penderita celah bibir. Diharapkan dengan adanya aksi ini ketidaksempurnaan akan tetap bisa memberikan inspirasi dan tidak menghentikan langkah seseorang untuk menggapai mimpi-mimpinya.

Tampil dalam formasi NEV, Nidji pun hadir dengan konsep yang menarik. Mengenakan kostum Death Vendor ala Star Wars, Giring beserta kelima rekannya berhasil menyuguhkan hits Shadow, Di atas awan, dan beberapa lagu lain dengan aransemen berbeda. Di tengah penampilannya, Giring beserta Randy Nijdi  juga menunjukan aksi treatrical yang cukup lucu dan menghibur. Kehadiran Nidji sebagai band penutup membuat suasana SmileMotion tahun ini menjadi paket lengkap bagi penonton yang ingin menghabiskan sisa energinya untuk berjingkrak-jingkrakan menikmati musik beraliran Eelectronic Dance Music (EDM).

Oleh : Feari 
Foto : Feari / Dewe

38TH JAZZ GOES TO CAMPUS : THE THRILL IS BACK!

|

www.padapanik.com - Salah satu event Jazz Festival terbesar di Indonesia kembali sukses digelar di tahun 2015. Jazz Goes To Campus Festival atau biasa disebut JGTC, adalah event Jazz Festival tahunan yang sudah digelar ke-38 kalinya di tahun 2015. Event yang diadakan oleh mahasiswa BEM FEB Universitas Indonesia tahun ini mengangkat tema “The Thrill Is Back” dengan menggaet musisi-musisi ternama internasional maupun nasional seperti Lenka, Raisa, Isyana Sarasvati, Maliq & D’essentials, Baim dan Gugun Blues Shelter, serta masih banyak lainnya. Selain itu yang unik di JGTC38 yaitu adanya Museum Jazz yang berisikan sejarah-sejarah musik jazz. JGTC38 ini digelar pada hari minggu tanggal 29 November 2015 yang bertempat di lapang parkir fakultas FEB UI.


 JGTC 38 pun dimulai pada pukul 14.00 WIB. Sempat khawatir dengan hujan yang turun sebelum open gate  Jakarta dilanda hujan sejak pagi hari, namun keajaiban menghampiri JGTC 38 kali ini karena saat acara berlangsung hingga selesai hujan tidak kembali turun sama sekali. Dengan begitu planning yang di rencanakan pun berjalan lancar. Karena JGTC38 ini terdiri dari 4 stage (Makarizo Stage, Teh Pucuk Stage, Elevenia Stage, dan Nescafe Stage) yang membuat harus memilah-milih mana yang akan ditonton karena jadwal perform nya dari tiap guest star nya yang bersamaan. Dengan begitu planning yang kami buat adalah untuk menghadiri penampilan dari Raisa, Gerald Situmorang Trio, Lenka, Danilla, dan Isyana Sarasvati yang jadwalnya kebetulan tidak bentrok dan berurutan.
Untuk yang pertama yaitu Raisa yang perform pada jam 4 sore di Teh Pucuk Stage. Tampil selama 45 menit, Raisa menampilkan penampilan yang spesial untuk event Jazz Goes To Campus ke 38. Dengan mengaransemen musiknya yang lebih condong ke genre jazz, Raisa juga membawakan beberapa hits singlenya seperti ‘Bercahaya’ sebagai lagu pembuka, dilanjut dengan "Serba Salah", "Terjebak Nostalgia", "Jatuh Hati", "LDR", "Bye-Bye", "Teka-Teki", "Apalah (Arti Menunggu)" dan ditutup dengan "Could It Be Love". Bahkan Raisa sempat turun panggung untuk bernyanyi bersama para penggemarnya pada lagu "Teka-Teki". Selain itu juga di JGTC38 ini, Raisa memutar trailer film perdananya yang akan dirilis bulan Februari nanti yang bertajuk “Terjebak Masa Lalu” .

Setelah break maghrib, kami memilih Gerald Situmorang Trio di Elevenia Stage sebagai destinasi selanjutnya. Bassist dari Barasuara ini membuat project jazz bersama 2 orang temannya dengan memainkan musik instrumental jazz. Dan pilihan kami untuk memilih Gerald Situmorang Trio pun tidak sia-sia, karena secara mengejutkan Gerald Situmorang cs membawakan lagu dari Barasuara dan Efek Rumah Kaca yang sedang booming saat ini yaitu "Sendu Melagu" dan "Sebelah Mata" yang di medley dengan aransemen jazz instrumental. Mendengarkan petikan gitar yang dimainkan oleh Gerald Situmorang dalam lagu tersebut seketika membuat pundak merinding karena keindahan dari aransemennya yang disampaikan secara apik sehingga membuat penampilannya menjadi klimaks.

Selanjutnya setelah Gerald Situmorang Trio, kami melanjutkan untuk menghampiri Makarizo Stage yang akan diisi oleh guest star utama dari gelaran JGTC yang ke 38 ini yaitu penampilan dari Lenka. Antusias pengunjung yang hadir pun sangat luar biasa untuk melihat penampilan dari Lenka ini yang terlihat dari padatnya pengunjung memadati area Makarizo Stage. Lenka menyadari akan hal ini yang kemudian menampilkan penampilan maksimalnya dengan atraktif meskipun sedang hamil besar. Dengan menggunakan spaghetti strap dress bermotif bunga dan kitten heels, ia terlihat kerap menggoyangkan badannya sambil merentangkan tangan. "Blue Skies" menjadi lagu pertama yang dibawakan Lenka, kemudian disusul dengan "Hearts Skips a Beat". Namun sebelum lagu ke dua ini dimulai, keyboard yang akan dimainkan Lenka mengalami masalah sehingga membuat penonton harus menunggu beberapa saat. Bahkan pada lagu berikutnya keyboard yang telah diganti masih saja belum cocok yang membuat Lenka membawakan lagunya dengan versi akustik. Hal tersebut membuat Lenka pusing dan akhirnya percobaan keyboard ke tiga pun berhasil yang membuat Lenka memuji crew karena telah membenarkan keyboardnya dengan perjuangan yang luar biasa. Teriakan pengunjung semakin membahana ketika lagu "Trouble Is a Friend" dan "Everything at Once" berkumandang. Suara pengunjung menyanyikan lagu tersebut tak kalah kencang dengan suara dari Lenka yang membuat berasa seperti sedang berkaraoke bersama. Setelah tampil kurang lebih satu jam, Lenka pun menutup penampilannya dengan lagu "The Show: yang memiliki pesan dari liriknya yaitu Just Enjoy The Show!.

Kemudian Danilla menjadi pilihan selanjutnya setelah puas akan penampilan dari Lenka. Danilla di daulat menjadi penampil penutup dari Nescafe Stage. Penampilan dari pemilik album ‘Telisik’ ini menghipnotis pengunjung yang memadati sekitar area Nescafe Stage dengan musik bernuansa jazz akustik yang dipadukan dengan suara lembut dari Danilla. Pengunjung sangat menikmati lagu-lagu yang dibawakan oleh Danilla sambil berduduk ria melemaskan kaki dan telinga karena musik yang dibawakan Danilla lebih santai dibandingkan dengan stage lainnya. Sesekali pengunjung ikut bernyanyi pada lagu-lagu andalannya seperti "Buaian”, "Terpaut Oleh Waktu", dan "Berdistraksi"  hingga tak terasa Danilla pun harus mengakhiri penampilannya di JGTC38.

Dan yang terakhir kami kunjungi di gelaran Jazz Goes To Campus ke-38 ini adalah Isyana Sarasvati. Tampil dengan busana yang serba hitam dan casual, Isyana berhasil mengambil perhatian para pengunjung yang hadir di JGTC38 bahkan sampai memadati luar area Elevenia Stage. Isyana tampil spesial dengan menyajikan penampilannya secara teatrikal yang didampingi oleh dua pria sebagai backing vocal serta personil band nya dengan memiliki perannya masing-masing. Kadang mereka bertiga terlibat cinta segitiga, kadang juga baik-baik saja. Ada juga masanya saat Isyana membiarkan posisinya sebagai penyanyi utama diambil alih mereka. Isyana juga membawakan lagu-lagu andalannya seperti "Keep Being You", "The Way I Love You", dan "Kau Adalah". Pada saat membawakan lagu  "Kau Adalah", terjadi hal lucu diatas panggung dengan isengnya salah satu backing vocal memakai topeng bergambarkan wajah dari Rayi “Ran” yang seolah sedang featuring bersama Isyana seperti pada lagu aslinya. Setelah itu lagu "Tetap Dalam Jiwa" dibawakan secara berbeda oleh Isyana dengan menambahkan part nyinden pada bagian tengah lagunya. Dan pada akhir penampilannya, Isyana semakin menggila dengan bermainkan nada-nada tinggi serta menari dan melompat kesana-kemari yang membuat pengunjung takjub dan sangat puas akan penampilan dari Isyana Sarasvati. Lagu "All Of Nothing" dan "Runaway"-nya Bruno Mars menjadi penutup dari penampilan Isyana Sarasvati sekaligus menjadi akhir dari Elevenia Stage.


Setelah Isyana Sarasvati masih ada penampilan lain di Makarizo Stage dan Teh Pucuk Stage seperti Eric Legnini Trio, Indra Lesmana feat. Eva Celia, Dewa Budjana, Sentimental Moods, dan Maliq D’essentials. Dengan begitu berakhirlah momen 38th Jazz Goes To Campus: The Thrill Is Back dengan sangat luar biasa. Setiap guest starnya memiliki klimaks tersendiri yang membuat hasrat ini terpuaskan. Satu kalimat yang cocok untuk mengakhiri gelaran JGTC ke-38 ini sama seperti yang dituturkan Lenka, Just Enjoy The Show!

Oleh : Dewe 
Foto : Yoga 

.NOT SOUND DESIGN : MENDESAIN AUDIO UNTUK FILM ?

|

www.padapanik.com - Tolak ukur dari kesuksesan sebuah film mungkin dapat dilihat dari berbagai perspektif mulai dari hasil penjualan tiket, piala penghargaan yang didapatkan dari berbagai festival atau saat  film itu sendiri menjadi perbincangan kaula muda di media sosial. Keberhasilan sebuah karya film itu sendiri tak terlepas dari hasil kerja sama crew yang tentunya telah bekerja dalam porsi masing-masing dengan optimal. Kemampuan seorang soundman memadupadankan suara dengan gambar tentu menjadi salah satu aspek penting yang membuat karya film begitu mampu membuat penonton betah dan menikmatinya. 



Pernahkah terbayang dalam benak kamu jika sebuah film thriller yang seram diisi dengan backsound Warkop DKI yang ceria? Mungkin kamu akan menggerutu melihat sebuah aksi pembunuhan yang kejam menjadi tak selaras karena dibumbui dengan musik bernuansa komedi. Jadi untuk membuat sebuah film dan menciptakan suasana tertentu dibutuhkan keterampilan dan naluri yang kuat dari sang aransemen musik.

Lewat sebuah Seminar & Workshop .NOT Sound Design, Keluarga Mahasiswa Manajemen Komunikasi (KMMK) Unisba menggaet Dissa Kamajaya (Jakesperiment, Sembilan Matahari) dan duo kakak beradik Evan Storm dan The Babams (Storn Labs). Melalui seminar yang diselenggarakan pada 23 November ini, para pengisi acara mencoba untuk membagikan kisah dan pengalamannya mengenai dunia sound design.
            
Evan Storn yang produktif menghasilkan karya lewat alat analog modular synthesizer menginterpretasikan jika sound design for film merupakan suatu proses dalam membangun, memperoleh, memanipulasi, atau menghasilkan sebuah audio. Dia mengungkapkan seseorang akan punya imajinasinya sendiri ketika melihat suatu visual. Selera seseorang akan bergantung pada karya yang dihasilkannya, imajinasi orang akan mempunyai warna yang berbeda untuk membuat sebuah visual lebih hidup dan berwarna.

            
Pada seminar ini Evan ditantang oleh panitia untuk melakukan simulasi langsung dalam proses pembuatan sound melalui analaog syintizer yang dibawanya. Dalam waktu singkat, dia menunjukan kepiawaianya dengan menggambarkan suasana hujan, petir, dan werewolf untuk membuat suasana malam yang mencekam. Kolaborasi suara itu pun berhasil membuat beberapa imajinasi penonton terangsang dan memejamkan mata untuk menciptakan visual sendiri melalui pikirannya.

“Ketika membuat karya dengan sound kalo bisa se original mungkin, mengambil audio hasil orang lain untuk sebuah karya sah saja tapi itu menurunkan keoriginalitas karya kita”, ungkapnya. Dia juga memberikan motivasi kepada peserta yang datang untuk jangan lelah belajar dan memperkaya wawasan tengan sound design sebab kemampuan yang dimilikinya merupakan otodidak dan hasil ketekunanya dalam belajar.

Tak berbeda jauh dengan kakaknya Evan, The Babams yang dikenal sebagai mixing mastering dan audio producer turut mempertontonkan keahlianya dalam memanipulasi suara. Pada simulasi kali ini, The Babams meminta bantuan salah satu peserta untuk ikut terlibat dalam proses mixing. Dengan menampilkan visual tiga dimensi dinosaurus, peserta diminta untuk mengisi suara dengan menirukan suara hewan purba yang pada kenyataanya belum pernah dia temui dan lihat langsung. Meskipun suara yang diisi berasal dari tenggorakan seorang wanita tapi nyatanya hal tersebut tidak menimbulkan kesulitan yang berarti. Hanya dalam kurun waktu lima menit, The Babams berhasil menyulap suara peserta menjadi auman seekor dinosaurus buas. Suara tawa dan tepuk tangan pun menggema di dalam aula melihat The Babams mempertunjukkan kebolehannya.

Dissa Kamajaya (DJ jakesperiment, sound  designer, music producer, audio visual creator) didaulat menjadi pembicara terakhir turut membagikan pengalamannya dalam dunia sound design. Dia mengatakan jika design adalah fungsi kita memanipulasi, baik itu gambar maupun sound. Meski keberadaanya sebagai sound design kerap kali dipandang sebelah mata oleh sebagian orang, dia mengatakan kalau untuk menyeleraskan alur cerita dengan sound harus diperlukan sinergi yang tak mudah dilakukan semua orang. Kegeniusannya inilah yang berhasil mengantarkan sembilan matahari bersama salah satu karyanya melanglang buana ke berbagai penjuru dunia.

Menutup acara seminar, penonton disuguhkan dengan penampilan dua band indie asal Bandung yaitu Teman Sebangku dan Munthe. Rangkaian kegiatan .NOT Sound Design ditutup dengan kegiatan workshop yang diselenggarakan di tempat berbeda yaitu The Kiosk’ Me pada tanggal 24-25 November. Kegiatan ini bersifat eksklusif bagi dua puluh peserta yang mendaftar dan rela dipungut biaya sebesar Rp. 175.000, Selain mendapatkan T-shirt, ID card, bulletin, sticker, snack, certificate, dan software. Peserta bisa belajar lebih intim dan dimentori langsung oleh ketiga pembicara dan menikmati suguhan musik dari Bottlesmoker.

Oleh : Feari
Foto : Feari

Apel Manis x Koffluck : Gigs intim, teman, dan kopi

|

"Jika suci adalah putih, maka tidak akan ada kopi di antara kita" - Koffie Lucky, Bandung

www.padapanik.com - Malam minggu yang macet dan padat merayap memang bukan pilihan. Menetap untuk minum kopi dan mengobrol santai adalah pilihan yang tepat untuk terhindar dari pengalaman buruk malam minggu di tengah kemacetan. Di temani musik, weekend singkatmu sudah cukup istimewa, tidak perlu sempurna! Kopi yang pahit bisa manis dengan alunan musik live yang mengisi panggung dengan bahagia.


Apel manis, band pop jazz Bandung yang tengah berbahagia karena telah selesai merekam single terbaru nya "Salah cinta". Sebuah perayaan sederhana di sebuah kafe kopi kecil di Bandung menjadi tempat mereka untuk menghibur teman-teman dan pendengar yang selalu mendukung 4 tahun perjalanan mereka. Panggung kecil dan sedikit cahaya sudah cukup untuk menikmati pertunjukan musik dengan performa band yang maksimal. Sebelumnya, Bill Nov ditugaskan untuk menyambut penonton dengan lagu-lagu top chart sekaligus ikut memamerkan single pertama nya.



Suasana yang cukup intim, para pengunjung cukup puas dengan suguhan hiburan yang diberikan. Hingga saat nya Apel Manis naik kepanggung. Memulai dengan "Setahun kemarin" nya Kahitna, mereka membagi setlist nya menjadi dua, original song dan cover. masing-masing 4 lagu dengan berbagai rasa yang berbeda-beda. Hingga tiba ke lagu terbaru "Salah cinta" dan di akhiri dengan "Love on top" nya beyonce.


Sebagai sebuah band baru, adalah sebuah usaha yang baik untuk menciptakan panggung mereka sendiri. Kolaborasi dengan rasa pahit kopi dan berbagai rasa dari lagu-lagu yang dibawakan akan menjadi rasa tersendiri bagi teman-teman yang selalu ada di setiap panggung sebagai pendukung barisan terdepan. Hidup musik indie~

Oleh : Ashari
Foto : Dewe


4 Dalil tips membeli earphone...

|

www.Padapanik.com - Saat ini mendengarkan musik sudah jadi kebutuhan wajib setiap orang, dimana aja, di mobil, di kamar, di kampus bahkan di kamar mandi sekalipun. Saking perlu nya musik, bahkan kami masukan dalam sandang, pangan, papan, colokan dan dengerin musik di pojokan sebagai kebutuhan primer manusia. Di tambah dengan kualitas gadget yang dimiliki yang pada umumnya sudah punya kapasitas yang sangat baik untuk mendengarkan musik.a mendengarkan musik alangkah baiknya menggunakan earphone, niscaya musik yang kalian dengarkan akan masuk dan merefleksi otak, hingga secara tidak sadar akan membuat kalian ngangguk-ngangguk gak karuan. Sayangnya earphone adalah perangkat yang paling rawan. yah, rawan hilang, rawan putus (kayak hubungan kita, eh*), rawan rusak, dan sebagainya. Harusnya hal ini dijadikan pembelajaran buat siapa aja yang ingin memiliki earphone baru, belajar dari pengalaman~

MatahariMall.com tempat belanja earphone yang mendukung musikalitas anda. 
*iklan dulu sedetik

Bukan hanya pemutar audionya saja yang harus berkualitas. Sebab mutu earphone yang kalian gunakan akan menentukan kualitas musik favorit Anda. Yang suka metal milihnya earphone dengan volume yang keras, sedangkan anak EDM biasanya pengen yang bass nya sampai bikin jantung ikut hacep.

Banyak sekali pilihan earphone yang dijual di pasaran. Namun sebelum kalian memutuskan jenis earphone yang kalian inginkan, Ini ada 4 dalil www.padapanik.com tentang tips membeli earphone yang gak begitu penting : 

Merek dan harga Earphone

[popsugar.com]
Harga tak pernah mendusta. Karena biasanya kualitas earphone yang kalian dapatkan akan sebanding dengan harga yang kalian bayar. Makanya kalau beli yang harga 15ribuan terus seminggu rusak yah jangan marahin teteh-teteh kasir nya yah. Banyak sekali merek earphone populer yang menawarkan kualitas terbaik. Anda bisa mencari referensi tentang masing-masing merek sebelum memutuskan pilihan. Bisa tanya pengalaman temen tentang merek tersebut, jangan tanya ke mbah dukun, takut disemprot. 

Bentuk Earphone yang Ergonomis

[sumber foto : amazon.in]
Meski sekilas tampak memiliki bentuk yang sama, belum tentu satu produk earphone sama nyamannya dengan earphone dari merek lain. Earphone yang terasa nyaman ketika dipakai akan membuat telinga Anda tidak mudah merasa pegel atau sakit (ada juga yang bikin gatel tuh). Bantalan busa atau karet pada earphone biasanya akan membuat earphone nyaman digunakan dalam waktu yang lama. Iya bikin nyaman, kayak kamu... *krik krik

Kualitas Bass
[sumber foto : 123rf.com]
"dum dum dum" (suara bass kalau ditulis kayak gimana sih?) Earphone kalian gak ada bass nya? yah percuma atuh. Dengerin musik dengan suara bass yang jelas bisa nambah experience kalian, pokoknya bakal lebih asik di telinga. Apalagi buat penikmat musik EDM (Elektronik Dance Music) serasa dj nya main di sebelah kamu. Lagian, kasian kan bassist nya udah main capek-capek tapi suara bass nya gak kedengeran? Perih john...

Treble Earphone

[sumber foto : Bhinneka.com]
Suka pusing kalau habis dengerin musik pake earphone? berarti umur kamu udah tua berarti ada yang salah dengan treble nya earphone kamu tuh. Kalau earphone yang bagus gak akan bikin telinga kalian sakit, apalagi hati kalian. So, pastikan treble earphone kalian bener.

Mungkin udah cukup kali yah, 4 Dalil www.padapanik.com tentang tips membeli earphone, Karena ini sudah semakin curcol, semoga ini bisa membantu kalian yang bingung mau beli earphone yang kayak gimana. Atau kalau bingung mau beli dimana, coba aja kunjungi situs MatahariMall.com sambil lihat-lihat dan nyari produk earphone berkualitas. Pilihan nya banyak banget, sekalian nyesuaiin sama kualitas dan budget kalian. Tinggal pilih barang, transfer, dan barang dikirim dengan selamat. Tapi ingat, ini toko online! jadi gak bisa modus sama teteh-teteh kasir tokonya. Ya kali

Support by : MatahariMall.com tempat belanja earphone yang mendukung musikalitas anda. 

Oleh : Ashari 


HEARTBREAK CELEBRATION : JUICY LUICY DAN PERAYAAN PATAH HATI SE-BANDUNG

|



www.padapanik.com - Setelah kesuksesan album pertama "Dansa Malam", seperti sebuah berkah, lirik-lirik galau nan miris tapi bahagia ala Dennis (Gitar) yang terdengar sedikit kontradiktif kini membawa Juicy Luicy menjadi salah satu band yang dengan jadwal manggung yang cukup rutin, menjadi idola pensi hingga guest star di panggung-panggung indie Bandung. Jika di lihat dari materi band yang ada sekarang, seperti nya bekal yang dikumpulkan sudah siap untuk menuju perjalanan selanjutnya.


Jarang terdengar kembali, kami akhirnya bertemu Juicy Luicy kembali saat mereka manggung di "Ngamplag Live" yang di selenggarakan infobdg di Bumi Sangkuriang. Di daulat sebagai band penutup acara, sayang sekali malam itu bukan hari yang baik karena massa terlalu memusatkan perhatian pada wanita cantik bersuara alto "Danilla" yang sangat ditunggu-tunggu malam itu. Apresiasi yang kurang tidak membuat Juicy Luicy tampil seadanya. Tetap menghibur. Mereka pun mengumumkan launching single terbaru mereka yang berjudul "Aku cinta dia yang cinta pacarnya" masih kental dengan pesona Juicy Luicy seperti di album sebelumnya. 


Beberapa minggu kemudian akhirnya terdengar juga kabar gembira tersebut. Sebuah konser bertajuk "Heartbreak Celebration" yang diadakan 13 November di Backyard 145 Bar and Eatery ini menjadi perayaan sekaligus sebagai penandaan kematangan Juicy Luicy sebagai band yang sudah siap keluar dan bersuara di luar Bandung. Konser yang didukung banyak pihak ini benar-benar memanjakan Juicy Luicy dengan penonton yang rela datang karena keinginan satu-satu nya untuk menonton band favorit nya tersebut. Venue yang kecil cukup untuk memanjakan para penggemar dan sahabat-sahabat musisi yang ikut hadir malam itu. 




Venue dengan atmosfir yang mendukung membuat performa Juicy Luicy cukup total malam itu, membawakan lagu-lagu hits mereka membuat penonton ikut bernyanyi dan sedikit goyang malu-malu. Acara ini juga dimeriahkan oleh ke absurd an jokes-jokes Uus (Stand up comedian) yang diminta menjadi MC malam itu. Pria yang mulai aktif tampil di TV nasional itu pun ikut bernyanyi dengan format Acapella di lagu "Terjebak persahabatan" setelah sebelumnya sukses mengcover lagu "Somebody to love" milik Queen.

Sesuai judul konsernya, Juicy Luicy telah menyiapkan suguhan spesial dengan membawakan lagu-lagu galau terbaik di tahun 2000an seperti lagu-lagu Yovie and The NunoAda band hingga Glen Fredly. Tentu dengan aransemen keroyokan ala Juicy Luicy. Konser ini dibawa dengan nuansa Juicy Luicy yang ramai ala pesta tapi sing along dengan hati yang patah~

Hingga tiba saatnya di puncak acara, yaitu launching video lirik "Aku cinta dia yang cinta pacarnya" yang akhirnya gagal di putar karena kesalahan teknis. melihat keadaan tersebut, Julian (Vocal) naik ke atas panggung dan mengisyaratkan untuk menghentikan video yang masih terputar dengan patah-patah. Untuk membayar hal tersebut, akhirnya Juicy Luicy naik kepanggung dan menyelesaikan setlist terakhirnya. 

Jika melihat dari materi Juicy Luicy harusnya tidak sulit bagi mereka untuk melebarkan sayapnya ke ranah penggemar yang lebih luas (bahkan tidak hanya di scene indie saja) karena musik mereka yang easy listening dan lirik-lirik yang mengena di kehidupan percintaan remaja sehari-hari. Entah masih mencari momen yang tepat atau sedang mengumpulkan materi album selanjutnya, dengan menggandeng E-motion management yang sudah berpengalaman dengan nama-nama besar, apakah Juicy luicy menjadi nama besar selanjutnya yang berhasil di bawah E-motion management? Kita tunggu saja...

Selamat malam~
(Untuk kalian yang baca tulisan ini di siang hari)

Oleh : Ashari
Foto : Renal