Banner

ADVERTISE

ALBUM REVIEW : TULUS - MONOKROM

|

padapanik.com - Tidak terasa sudah setahun lebih tidak ada yang mengisi konten review rilisan fisik. Padahal konten ini paling banyak mendapatkan views. Sayangnya mereview musik adalah hal yang menegangkan, saat proses menulis dan saat di baca orang lain. Semuanya menegangkan. Tapi mari kita biasakan. Selamat menikmati! 

Album "Monokrom" baru keluar bulan lalu, pasti single nya masih jadi jagoan di radio-radio dan playlist favorit di handphone kalian. Album ketiga mahakarya Tulus ini sebenarnya tidak mudah untuk di sukai dalam waktu yang singkat. Album ketiga jauh lebih banyak eksplorasi dan tingkat kesulitan yang tinggi sehingga tidak se pop di album sebelumnya. 

Mari kita mulai dengan packaging nya. Seperti biasa Tulus tidak mau begitu fokus pada kemasan nya. Masih menggunakan foto nya sebagai cover dan kaca mika sebagai wadahnya. Sepertinya Tulus sedikit pesimis dengan penjualan CD dan tidak berani membuat kemasan yang lebih ekslusif dengan resiko harga rilisan nya ini naik sedikit. Album ini masih dijual dengan harga Rp.25.000,- tentunya masih dibawah rata-rata rilisan fisik yang keluar akhir-akhir ini. Hal ini juga mungkin menjadi alasan kenapa semua lagu di upload di channel youtube "musiktulus" yang pastinya membuat nya bisa didengarkan dan di download secara cuma-cuma. 

Single pertama "Pamit" sudah di upload videoklip nya sejak bulan februari 2016 dan sudah ditonton hampir 10 juta views. Kemunculan "Pamit" membuat sebagian pendengar terkejut karena dinamika vokal nya yang unik dan nuansa string nya kental sekali. Tidak mudah untuk menyanyikan lagu ini, salah satu alasan mungkin kenapa album ini tidak se pop sebelumnya. Dan lagu-lagu lainnya menyusul seperti single kedua "Ruang Sendiri" yang di buat "bersahut-sahutan" antara vokal utama dan backing vocal yang terbagi beberapa suara. Yang ini jauh lebih sulit dinyanyikan karena peran backing vocal itu tadi. Pola seperti itu kembali digunakan di beberapa lagu seperti "Manusia kuat", "Tukar Jiwa", dan "Lekas". Sepertinya Tulus akan ditemani backing vocal setiap live di panggung-panggung selanjutnya. 

Jangan khawatir untuk yang belum siap, penulis butuh beberapa hari untuk menemukan kenikmatan mendengarkan lagu-lagu dalam album ini. Coba dengarkan "Tergila-gila" dan "Monokrom" yang masih kental dengan nuansa tulus di album selanjutnya. 

Lagu-lagu Tulus dalam album ini memang menantang, kualitas lagu nya di sokong komposisi chord yang ribet dan unik, dinamika vokal yang sulit, dan nuansa string megah nya membungkus sebuah album yang menjadi pembuktian 5 tahun perjalanan tulus di Industri musik tanah air. Berat tapi loveable. Lagu "Manusia kuat" menjadi pembuka track yang kuat seperti lagunya. Jangan lupa, yang unik di lagu ini adalah eksplorasi instrument yang mencoba menggunakan Ukulele di lagu "lekas" dan Harmonika di beberapa lagu. Nuansa string nya sendiri diisi oleh The city of prague philharmonic Orchestra yang direkam langsung di Smecky Studio, Prague, Czech Republik.

Lirik? Jangan ditanya lagi. Tulus menunjukan kematangan penulisan lirik bahasa Indonesia yang baik dalam album ini. "Ruang sendiri" adalah salah satu track dengan lirik yang jenius. Track yang dijadikan single kedua ini memiliki perspektif yang unik. Bagaimana kalian jika di minta menulis lagu tentang "cewek posesif?" saya yakin akan keluar sound yang meriah ala pop punk dengan lirik yang blak-blakan dan offensive. Tulus merubah cara berkomunikasi dengan sang wanita sehingga terdengar lebih baik. 

"Tak pernah sekalipun ada malam yang dingin, Hingga aku lupa rasanya sepi"
"Aku butuh tahu, seberapa ku butuh kamu, percayalah rindu baik untuk kita"
"Jika kau ingin tahu seberapa besar rasa yang kita punya, kita butuh ruang"

Hal yang terdengar "akal-akalan" aja bagi cowok, tapi sebaliknya terdengar begitu "melted" bagi cewek. Jenius! Tidak tanggung-tanggung videoklipnya diisi oleh Seniman kontemporer Melati Suryadarmo yang mendapat banyak di luar Indonesia. Bahkan masuk dalam "10 young artist to watch by Marina Abramovic". Yang cukup aneh, videoklip ini tidak diizikan berkomentar pada kanal youtube nya atau di non aktifkan. Apakah takut terjadi multi tafsir dari penonton?

Sisi romantis seorang Tulus bisa di dengarkan di track "Cahaya" dan Track tergalau ada pada "Langit abu-abu" yang miris. Liriknya gila, yang melankolis pasti langsung berkaca-kaca. Gosipnya sih, lagu ini mengarah ke seorang penyanyi cantik (Kebanyakan gosip sama ibu-ibu). 
"Ayo tulis di buku harianmu, kelak jelaskan bila engkau punya waktu" 
Tulus menutup album ini dengan track "Monokrom" yang bercerita tentang teman-teman kecilnya yang kini terpisah. Lagu ini juga menjadi perwakilan rasa terimakasih Tulus terhadap siapa saja yang mendukung nya hingga menjadi seperti saat ini. Lagu ini manis sekali bagi siapapun yang mendengarnya. Tulus menunjukan sisi romantisme nya di luar kisah percintaan. 

Selamat membeli dan mendengarkan album nya :) Saya dengan bangga merekomendasikan album ini untuk dibeli dan dinikmati mana saja.

Penulis : 
Ashari @arhieashari, masih berusaha mengcover lagu "cahaya" tanpa fals..
Review Rilisan fisik lainnya, klik disini

No comments:

Post a Comment