Banner

ADVERTISE

ALBUM REVIEW : STARS AND RABBIT - CONSTELLATION

|
via : facebook.com/starsandrabbit
Padapanik.com - Mungkin jika ada nominasi "album yang paling ditunggu" album ini pastilah akan menjadi salah satu dari nominasi nya atau bahkan jadi pemenangnya. Sejak kemunculan duo folk Stars and Rabbit 2011 lalu saat beberapa video live mereka di unggah di situs Youtube. Sosok nyentrik Elda Suryani dengan suara unik, lucu namun begitu emosional menyampaikan pesan-pesan dalam lagu yang liriknya ia tulis sendiri dari cermin pengalaman pribadinya ternyata begitu menarik perhatian. Jika mendengar suaranya, beberapa mungkin ingat seorang vokalis wanita yang memenangkan ajang pencarian vokalis sekitar tahun 2006-2007 di sebuah televisi swasta.Vokalis Evo yang memainkan musik rock alternatif atau vokalis Stars and Rabbit yang melantunkan musik pop folk adalah sosok yang sama. Kali ini dengan partnernya Adi Widodo, maka lahirnya duo indie idola baru yang cukup menarik perhatian para penikmat musik. Tidak perlu waktu lama, Stars and rabbit akhirnya membentuk pasarnya sendiri, hal itulah yang akhirnya membuat album ini berhasil di selesaikan.

Full album perdana mereka berjudul "Constellation". Dalam album ini sebenarnya tidak ada lagu yang berjudul serupa, satu-satunya kata Constellation terselip dalam lirik lagu "Man upon the hill". Constellation dalam bahasa Indonesia berarti Konstelasi atau yang lebih dikenal dengan "rasi bintang". Mungkin ini adalah bagian imajinasi Elda tentang bintang dan bagaimana ia melihat sifat tersebut ke dalam kehidupannya sehari-hari. Pastinya bakalan imajinatif dan dipenuhi lirik-lirik yang multi tafsir.

Seperti biasa, review akan dimulai dengan packaging nya! Seperti judulnya, tulisan Stars and rabbit berlatar belakang rasi bintang, jadi buat yang belum tau judulnya, mungkin akan mengira judulnya self tittled. Karena hanya background tersebutlah yang mewakili judul (atau tulisan constellation di bagian sisi). Ketika membuka cd ini juga berbeda karena membukanya seperti membuka sebuah amplop (atau apa yah? penulis susah menjelaskannya) di buka dari belakang secara vertikal, tidak seperti kebanyak CD yang dibuka dari depan secara horisontal. Uniknya, Setiap lirik lagu di pisah-pisah, semua lirik ditulis tangan (mungkin ditulis langsung oleh Elda) dengan sederhana, bahkan beberapa lirik terdapat coretan, disertai gambar-gambar kecil. Album ini juga menyertakan Artwork berupa ilustrasi tiap lagu di balik liriknya. Juga terdapat juga foto Elda dan Adi plus tanda tangan keduanya. Cukup menarik.

Jika terbiasa mendengarkan Stars and Rabbit dengan musik minimalis. Kali ini akan dikagetkan dengan aransemen full band. Semua lagu kembali di aransemen dengan full band yang secara tidak langsung membentuk ambience yang emosional di bandingkan dengan nuansa folk di EP Live at the Deus. Kecuali lagu "Rabbit Run" yang pada akhirnya dibiarkan dengan format akustik.

"Like it here" yang menjadi lagu pembuka di album ini memang mengagetkan, bass yang menggema dan hentakan drum di awal mungkin akan membuat bingung para pendengar yang terbiasa dengan stars and rabbit yang akustik. Lalu di lanjutkan dengan single pertama dalam album ini, "The House", sebenarnya karena lagu ini adalah satu-satu nya lagu yang baru di publish setelah adanya album ini. Sedangkan lagu lainnya sudah sering dibawakan. Di posting lebih dulu di bulan mei kemarin, cukup mudah lagu ini untuk membuat pendengarnya jatuh cinta dan memutarnya berulang kali. Lalu dilanjutkan "catch me" yang dimulai dengan melodi gitar elektrik tapi masih diiringi oleh suara gitar akustik yang dominan. Juga beat-beat yang ditambahkan suara drum dan keyboard. Lagu ini membawa pendengar ke nuansa folk ala bar-bar Eropa atau Amerika selatan dengan sedikit nuansa reggae (penulis sok tau). Suara backing vocal sang gitaris juga sangat berperan dalam lagu ini. Keputusan yang tepat membuat lagu ini di aransemen full band.

via Instagram @littlesuri
Masih dengan nuansa yang sama, "Worth it" dengan beat drum nya membuat pendengar tidak sadar menggerakan badannya untuk bergoyang mengikuti irama. Lagu pertama yang dikenalkan oleh stars and rabbit ini memang sangat cepat di sukai oleh para fans. Saat tampil di salah satu gigs Bandung, lagu ini tidak di masukan dalam setlist karena Elda mengaku cukup bosan membawakannya (mungkin karena sudah sangat lama dan sudah sering dibawakan), namun akhirnya tambahan lagu terakhir, atas desakan penonton, lagu ini akhirnya di bawakan. Lagu ini juga di eksekusi dengan aransemen full band yang tepat. Lalu di lanjutkan dengan akustik folk ala "rabbit run" yang ceria dan menggemaskan. Harusnya lagu ini bisa di tempatkan di awal album agar pendengar tidak kagok saat musik stars and rabbit full band di track pertama. Dilanjutkan "Cry little heart" yang menyayat, dan "I'll go along" yang kini menghentak, dimulai dengan efek gitar yang kering lalu diikuti drum dan bass yang menyalakan suasana lagu.

"You were the universe" yang terdengar pahit dan emotional love song "summerfall" yang dinyanyikan dengan cukup sulit dan akhirnya sampai kepada "Man upon the hill" lagu ini sebenarnya sudah pernah di aransemen full band dalam video live studio yang di upload beberapa tahun lalu dan akhirnya sempurnakan di album ini. Ambience bahagia dalam lagu ini benar-benar tersampaikan. Dan di tutup dengan "Old man finger", lagu yang paling unik (menurut penulis) mungkin karena nada-nada nya yang liar, salah satu lagu yang terkesan berbeda dan jadi warna musik yang paling menyolok dari musik stars and rabbit.

Salah satu kekuatan stars and rabbit juga ada pada liriknya, semua di tulis oleh Elda dengan perasaan yang berbeda-beda. Tidak hanya cara bernyanyinya, tapi imajinasi nya dalam berbagai hal yang dituangkan dalam seni memang membuat decak kagum. "Elda itu magic banget" ujar Adi saat Signing Sessions Constellation di Omuniuum, Bandung. Mungkin saat ini hanya Adi lah yang bisa menerjemahkan lirik-lirik tersebut ke dalam bunyi yang dia (Elda) mau. Sebenarnya tidak banyak kosakata sulit, penempatan yang tepat dan analogi yang manis, hampir semuanya terkesan pas. Bahkan beberapa kalimat sangatlah memukau. Butuh waktu untuk memahami alur cerita yang coba di ceritakan dalam album ini, Tentang like it here yang menjenuhkan, Hingga jatuh ke titik The House yang sulit, lalu masa-masa sulit lainnya hingga meluapkan semuanya di lagu Cry little heart. Lalu I'll go along yang menjadi pelarian, kesedihan yang coba ditutupi dengan berjalan jauh, dan kembali melihat realita perjalanan hidup yang pahit, masa-masa sulit dimana saat tidak ada keinginan berbuat apa-apa, left me out with nothing, nothing but my pens and paper~ dan akhirnya kembali menemukan cinta di pertengahan musim Summerfall, dan inspirasi baru di atas bukit Man upon the hill sebuah saat yang menyenangkan untuk di lewatkan, And We danced in the room, Grew our heart a blom, I stop right there, You've found a new home, and I should be happy.....

Kebahagiaan di akhiri dengan melihat kembali semuanya, dan menyadari hal-hal yang tidak di terpikirkan sebelumnya, menjadi sebuah proses yang lebih baik. Tentang sang penulis skenario, yang di gambarkan dengan Old man finger. 

Menyenangkan sekali membaca dan mencari makna dari lirik-lirik tersebut, meskipun tidak semuanya benar. Beberapa lagu mungkin jauh lebih galau dari Adele haha. Album ini berisi total 11 lagu dan semuanya ditulis dalam lirik bahasa inggris. Seperti biasa ada pilihan track favorit, penulis memilih Old man finger, Man upon the hill, The House dan You were the universe.

Album ini di produseri oleh mereka sendiri, Artwork nya sendiri di buat oleh Nady Azhry. Keunikan dalam album ini adalah Mastering nya oleh John Davis, Metropolis studios, London yang sudah menangani artis-artis seperti Lana del rey, Led zeppelin, blur dll. Berawal dari mencari nama-nama master engineering dari band-band favorit mereka, dan dengan memanfaatkan email, ternyata John Davis sendiri sangat tertarik dengan album constellation. Hal ini harusnya jadi semangat optimis bahwa album ini harusnya bisa dipasarkan di luar Indonesia. Jika tidak salah, The House jadi salah satu soundtrack film Hollywood Wander yang akan tayang tahun ini. Semoga benar.

Selain itu, album ini juga di promosikan melalui Constellation Asian Tour 2015 di beberapa kota seperti Malang, Bali, Shenzhen, Hong kong, Guanzhou, Manila dan Jakarta. Sekian! Selamat mendengarkan!

Note : 
Penulis saat ini hanya mereview album-album yang disukai dan review bersifat subjektif. Jika ada album yang kalian sarankan untuk di review, silahkan tinggalkan komentar di bawah atau contact kami melalui email. Agar album yang kami review lebih variatif. Terimakasih telah membaca, jangan lupa di share :)

Oleh : Ari
Baca juga : 
Review album : Deugalih and Folks "Anak sungai" 
Review album : The Triangle "Self titled"
Review album : Tigapagi "Roekmana repertoire"  

No comments:

Post a Comment